Az-Zuhri

Pondok Pesantren Az-Zuhri, Semarang

Serpihan Biografi Abah Syech M. Saiful Anwar Zuhri Rosyid

 

Prolog :

Ojo ndeloki ‘wohe’ Abah  !!!

Tapi deloken Abah olehe ‘milih tanah’,

olehe ‘milih winih’

olehe ‘ndangiri’

olehe ‘nyirami’

 

Abah : Majlis Durrotun Nasihin

Jum’at, 24 April 2004

 

Fatwa tersebut mengingatkan kita, agar dalam melihat seseorang yang menjadi ‘tokoh  idola’, agar dalam memandang seorang figur panutan kita tidak terjebak dengan hanya menyorot ‘buah’ keberhasilan & kesuksesannya. Abah, Guru kita mengajak untuk berpikir secara rasionalistis, beliau menggembleng kita untuk berpola hidup produktif.

“Pelajarilah Biografi Tokoh Besar !!”

Demikian suatu kali Abah berpesan, beliau ingin agar santrinya tidak mengapungkan cita-cita dalam lautan khayalan. Beliau ingin agar kita mempelajari proses dan jalan panjang berliku yang dihadapi seorang tokoh dalam menggapai keberhasilan, tidak hanya memandang hasil yang dicapainya sekarang.

Melalui “Serpihan Biografi : Abah Syeikh Muhammad Saeful Anwar ZR” yang kami sajikan dalam suplemen edisi kali ini, semoga dapat membantu kita semua untuk mempelajari proses dan lika-liku yang dijalani beliau hingga menjadi seorang figur ‘Ayah’ seperti sekarang yang dapat kita saksikan.

Kami sebut dengan ‘serpihan’, karena ulasan ini masih jauh dari kesempurnaan, ‘serpihan’ ini belum tersusun secara sistematis baik secara kronologis maupun tematis. Namun, sumber-sumber yang masih tercecer dan berserakan berupa ‘serpihan’ tersebut amat sayang bila tidak kita susun mulai sekarang.

 


 Sekilas Nasab

Ayahanda Abah  selain priyayi juga seorang Kiai, yakni KH. Mudatsir Zuhri, namun orang mlarat karena kejujurannya dalam menunaikan tugas sebagai pamong praja. Ayahanda selalu mengingatkan Abah agar eling “pedangane”, eling purwaduksinane, (ingat dapur kita, ingat dari mana kita berasal) karena dengan begitu akan mencegah untuk bersikap arogan, gumedhe lan gembagusan.

Ibunda Abah bernama Sukarni, sosok istri yang manut dan figur ibu yang amat memperhatikan pendidikan putra-putrinya, pandai Bahasa Belanda, Jepang dan Padang. Melalui ibu, Abah belajar segala sesuatu tentang kaputren, tak mengherankan bila Abah faham betul tentang menyulam, menjahit, sanggul hingga memasak, bahkan tata cara makan dengan berbagai macam sendok, garpu dan pisau – yang pada waktu itu hanya orang kaya dan suka meniru kehidupan ala Belanda saja yang memahaminya – juga diajarkan kepada Abah oleh Sang Ibu. Ibunda Abah pernah bekerja sebagai seorang makelar di pegadaian. Karena cantik dan langsing, menjadikannya laris. Bila lapar, ibunda membeli rujak di depan pegadaian, rujak yang dalam wadah templong/pincukan, disisiri pelan-pelan.

Eyang Abah seorang kusir dokar, salah satu karyawan dari Uminya (ibunya) Habib Syeikh Hamid. Eyang pernah memberikan 3 pilihan kepada Abah untuk memilih salah satu, apapun yang akan dipilih  oleh Abah insya-Allah terpenuhi dengan restu Eyang, ke-tiga pilihan tersebut adalah : (1) Menjadi seseorang yang punya jabatan tinggi dan kaya raya, (2) Menjadi pengusaha sukses dan banyak harta, (3) Meninggalkan keduanya, memilih mulang ngaji dan menjadi Kiai.

 


Suka Berantem

Sejak kecil Abah sudah doyan gelutan, suka berantem. Waktu beliau masih duduk di sekolah MI Ma’arif (setingkat SD), waktu ada pementasan drama, oleh Pak Guru yaitu KH. Ahmarun, Abah diplot sebagai bakul (penjual) sepet (tepes/kulit kelapa) sedangkan seorang murid yang lain diplot menjadi pedagang salak.

Saat pementasan, teman Abah yang berperan sebagai penjual salak berteriak-teriak menawarkan dagangannya, “salak, salak..!!”. Abah kecil yang berjualan disebelahnya juga tak mau kalah menawarkan dagangannya, “sepet, sepet…!!!” .

“Salak,..salak!!”, “Sepet..,sepet!!”, tentu saja si bakul salak marah pada penjual sepet. Karena sahutannya akan menimbulkan kesan pada calon pembeli kalau dagangan salaknya sepet. Terjadilah keributan di panggung pementasan. Keributan yang disangka para penonton hanyalah sekenario belaka, ternyata menjadi keributan yang sesungguhnya.

Kejadian lainnya adalah saat Abah berantem dengan teman sekelas sekaligus kakak kandung beliau sendiri, Kakang Anwar Haryono. Perkelahian sengit itu membuat nekat Abah kecil menancapkan sebatang potlot (pensil) di tubuh lawan berantemnya. Ibu Yusriyah, wali kelasnya tentu saja mendengar kejadian itu, Abah mendapat omelan habis-habisan olehnya setelah jam pelajaran dibubarkan. Hingga Abah kecil menangis. Karena malu, saat menangispun harus menutupi muka dengan kedua lengannya sambil berjalan pulang ke rumah.

Masih dengan menutupi muka, sampailah Abah di depan pagar  rumah Babah Hong Jan yang dikenal sebagai pagar tembok tertinggi di kampung. Tembok inilah yang dijadikan Abah sebagai tempat merambat dengan muka masih ditutupi lengannya, namun ketika teringat bahwa di rumah Mbah Darmo dikenal sebagai tempat angker dan ada penunggunya bernama “Kuda Semberani” si ‘Abah kecil’ langsung lari kencang. “Ono opo pung” (“Ada apa pung ?”), Nyai Mahwari yang melihat Abah lari ingin tahu mengapa.

 


“Cinta”ku di Kampus SRI

MI Ma’arif NU I pada awal perintisannya masih bernama SRI (Sekolah Rakyat Islam) . Pendiri SRI yang dirintis pada awal 50-an ini diantaranya adalah KH. Mudatsir Zuhri (Ayah Kandung Abah Muhammad Saeful Anwar), dan KH. Muharir.

Abah mulai masuk sekolah ini pada tahun 1955 bersama kakaknya, Kakang Anwar Haryono.  Itupun sebenarnya sudah termasuk ketinggalan, karena pada jaman dulu seorang bocah baru  diperkenankan sekolah bila tangan yang dilingkarkan dikepalanya sudah bisa menyentuh telinga.

Pada acara “Reuni MI Ma’arif NU I” tahun lalu yang bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi 1424 H, dalam mauidhohnya, Abah Syeikh juga menuturkan tentang ‘cinta monyet’ beliau, cinta beliau di kampus ini. ‘Abah kecil’  adalah murid kesayangan Guru- guru. “Mungkin Abah paling cakep di sekolah itu”, demikian Abah menuturkan tentu saja dengan nada gurauan. Salah satunya adalah Ibu Sri Suharti, guru yang paling cantik di sekolah itu. ‘Abah kecil’ yang di sayang Bu Sri Suharti juga mulai menaruh hati pada Bu Guru cantik ini. Namun sayang ada yang merusaknya, Pak Sukri yang juga seorang Guru mulai naksir guru kesayangannya. Kecemburuan Abah mulai terlimpahkan pada guru pria ini.

Abah kemudian juga menuturkan, ada seorang teman kecilnya dulu yang sangat dicintainya, diidolakannya, Siti Fauziah namanya. “Padahal, saiki ayune ning endi tho ?”, beliau mulai berseloroh dan gerrr…. Para mustami’ yang hadir tertawa tak ketinggalan pula Siti Fauziah yang juga hadir di pertemuan alumni waktu itu.

Kemudian beliau juga mengisahkan awal berjumpa dengan gadis yang sekarang menjadi pendampingnya, pasangan hidupnya, yaitu Ibu Nyai Hj. Faizzah Saeful Anwar.

Saat di sekolahan tempat belajar si ‘Abah kecil’ mengirimkan delegasinya untuk turut berperan serta acara pementasan di tingkat Kecamatan, Abah adalah salah satu pesertanya, tentu saja beliau sudah mempersiapkan segala perbekalan. Bekal minuman ditempatkannya dalam botol. Namun sayang, sesampai di tempat tujuan botol yang belum sempat dinikmati isinya keburu dipecahkan secara tak sengaja oleh seorang gadis cilik. Gadis cilik itu ternyata sekarang menjadi pendamping hidup beliau,  tak lain dan tak bukan sekarang adalah Bu Nyai itu sendiri. Melalui ‘joke’ segar, Abah Syeikh menuturkan bahwa kalau waktu kecil Ummine (Bu Nyai) yang memecahkan botolnya Abah, sesudah nikah gantian Abah yang memecahkan ‘botol’nya Bu Nyai.

·         Waktu sekolah, ‘ipung’ kecil tak pernah bawa tas, karena memang tak punya, buku saja hanya mampu memiliki satu. Bila berangkat sekolah, seutas tali diselipkan pada buku tepat di halaman tengahnya dan diselempangkan pada bahu agar menyerupai tas sekolah.

 

 


Pencuri Yang Terpelihara

Si ‘Abah kecil’ juga pernah nyolong (mencuri).  Banyak sekali buah-buahan yang dicuri bersama teman-temannya. Bila ingin buah nanas tinggal ambil di Mbah Suro, di tempat Dul Basir dan Dalkin juga gudangnya buah yang sering menjadi korbannya.

 Tapi anehnya, walaupun sering mencuri tapi tak pernah punya kesempatan untuk menikmati hasil curian. Saat mencuri nanas di tempat Mbah Suro, karena tergesa-gesa takut ketahuan, nanas itupun disimpan dulu di tempat yang dikiranya aman. Namun sayang saat ada kesempatan akan melihat kembali hasil jarahan dengan maksud akan dimakan, nanas itu hilang. Ada yang mencuri hasil curian. Mungkin melalui kejadian ini Abah  mendapat pangreksan (pemeliharaan) Allah Yang Maha Penyayang dari barang haram.

Di waktu remaja, Abah juga pernah mencuri combro dan mbes-mbes di tempat Biyung Nah, ingat perbuatannya di waktu remaja tersebut, cepat-cepat Abah pulang ke Purwokerto dengan tujuan mencari Biyung Nah hanya untuk meminta ke-halal-an dari makanan tersebut.

 

 

 


Mengemis Di Alun-alun

Pada suatu hari Abah diajak oleh ibunda, menjadi pengemis di alun-alun Purwokerto, disinilah beliau bertemu Mbah H. Dardiri yaitu orang terkaya di Purwokerto saat itu. Melihat seorang bocah yang  penampilannya  putih bersih (kayak anak orang Cina), tentu saja Mbah H. Dardiri bertanya, “Kowe cah bagus-bagus kok ngemis ?”, seakan tidak percaya melihat cah ngemis anyaran yang bila dilihat dari penampilan tidak pantas menjadi pengemis sungguhan. Setelah ditelusuri ternyata beliau masih kerabat Abah, Abah bersama ibunda-pun dimarahi habis-habisan oleh beliau.

·         Pertama kali Abah ‘bisa’ membeli bakso pada tahun 1964, waktu itu Abah memakan bakso pelan-pelan sekali, saking takutnya bila bakso yang berhasil dinikmati pertama kali cepat habis.

·         Pertama kali Abah menerima gaji digunakan untuk membeli Rokok “Tapal Kuda” dan “Wahid”, rokok itu khusus dihadiahkan untuk ibunda tercinta. Begitu menerima hadiah tersebut, ibunda senangnya bukan main, sampai-sampai ibunda selalu bercerita pada setiap orang yang ditemui, hampir satu desa yang mengetahuinya.

·         “Darsun” adalah laqoban Abah di masa kecil dari Almarhum Mbah Darmo. “Bajingan sopo yo sing mangan ing mburi ?!”, demikian teriak Mbah Darmo sesekali. Sedangkan “Ipung” adalah panggilan Abah di waktu remaja. Karena perawakan Abah yang putih bersih kayak Cina, Selain “Ipung”, Abah pernah juga dilaqobi, “Ho Chi Minh”.

 

 


Bergaul Dengan Anak Kauman

Pergaulan Abah diwaktu remaja dihabiskan bersama anak-anak Kauman, anak Kauman terkenal sebagai golongan elit- yang bisa dikatakan air susu saja hanya digunakan untuk berkumur-. Kebanyakan dari mereka anak pondokan, kalau ngobrol selalu menggunakan Bahasa Arab.

Di masa itu, mendengar istilah “anak pondokkan” yang terlintas dalam benak setiap orang adalah anak orang kaya, dari keluarga terpandang. Pondok Pesantren di waktu itu sangat ketat dalam menyeleksi santri. Berbeda dengan sekarang yang dapat dikatakan image Pondok Pesantren hanya sebagai kaum pinggiran.

Waktu muda Abah seneng banget menonton Film-film laga, sebut saja Zoro, Tarzan, Hercules, semua tokoh dunia Abah hafal di luar kepala. Di waktu remaja Abah juga gemar membaca, buku apapun menarik perhatian beliau untuk dipelajari, sebut saja Stochlholm (dr. Watson), Jack & Bindstock, Litle red hingga Wiro Sableng semua sudah pernah dibaca. “Apapun Pelajari, apapun bacalah !!!” demikian pesan yang sering disampaikan Abah Syeikh.

·         Tanya saja pada Kaji Japari, waktu muda ‘Ipung’seneng gembagusan, gumede karena memang pengetahuannya luas dan bisa melakukan pekerjaan apapun. Ngerti lan iso sekabehane. Abah pernah menjadi kondektur bus, nylanger truk juga pernah, supir tank juga pernah !. Abah juga paham betul tentang seluk beluk berbagai macam senjata, misalnya jenis senjata  AK adalah kepanjangan dari penemunya orang Rusia, Anatomic Kormanov.

·         Jangan pernah menganggap rendah pekerjaan apapun !.

 

 

 


Tak Pernah Diperbolehkan Mengaji

Sejak kecil hingga bermukim di Ketileng Abah belum pernah mengaji, waktu kecil Abah tidak pernah diberi kesempatan mengaji oleh siapapun, Bila “Ipung” mendatangi Ustadz Asy’ari agar diajari mengaji, beliau tak berkenan mengajari. Begitu pula dengan Almarhum KH. Muharir, “Ipung” tak boleh mengaji di tempatnya.

Hal yang sama juga terjadi saat minta diajari mengaji di tempat KH. Dayat dan KH. Ahmad Syatibhi. Bahkan di tempat Eyang Halimi, bukannya si ‘ipung’ diperbolehkan mengaji malah disuruh nglinting mbako (cara tradisional membuat rokok). KH. Ma’shum juga tidak berkenan saat ‘ipung’ mau ikut ngaji, malahan ‘Ipung’ dicengkiwing (diangkat)-nya.

Namun kita jangan cepat mengambil kesimpulan untuk berkata , “Mengaji itu tidak perlu, bukankah  Abah juga begitu, nyatanya beliau bisa menjadi Kiai tanpa mengaji.” Karena pernyataan tersebut hanya bisa disimpulkan oleh orang yang dangkal  analisanya, kita tak akan berkesimpulan demikian bila melihat bagaimana usaha Abah mencari Guru ngaji. Walaupun tak pernah mengaji, beliau tetap mencintai pada setiap orang yang mencintai ilmu, mengaji. Walaupun ditolak dan tidak pernah diperkenankan mengaji, beliau tetap mendekati dan mencintai para ‘Ulama, orang ‘Alim.

·         “Mungkin kowe bisa khidmah marang Abahe, sebab Abah wong pinter, sugih ‘alim,….. ananging elingo yen Abah biso khidmah karo Dini sing wong bindeng, Sukinah si lonthe dengklang lan Darsi sinden.”

·         “Mungkin kalian (semua) bisa berkhidmah (mengabdi, menghormati) pada Abah disebabkan (kalian memandang) Abah adalah (sosok) yang pandai, kaya, ‘alim, ….. tapi ingatlah kalau Abah (waktu itu) mampu berkhidmah pada Dini yang bindeng (berbicara sengau), pada Sukinah si lonthe (pramuria/WTS) dengklang (cacat kakinya), dan pada Darsi (seorang) sinden.

 


Mencintai Orang ‘Alim

Karena Abah merasa tidak bisa mengaji, waktu muda Abah selalu berusaha mencintai dan mendekati orang-orang ‘Alim. Misalnya KH. Muharrir dari kauman, KH. Jamhari yang termasyhur paling bagus bacaan Al-Qur’annya di kalangan Kiai-kiai Purwokerto. Pada suatu ketika beliau KH. Jamhari pernah mendengarkan Abah membaca Al-Qur’an, dan komentar beliau, “Bagus-bagus….., saya kalah”, mendengar hal itu-pun Abah kaget dan matur pada beliau, “Kawulo maos mekaten marga ngidola’ake panjenengan”. (Abah membaca dengan meniru gaya KH. Jamhari)

Contoh lain kecintaan Abah pada orang ‘Alim, adalah kekaguman dan rasa penasaran yang diiringi keinginan untuk meniru kesaktian KH. Ahmad Mudatsir. Banyak orang bilang, KH. Ahmad Mudatsir terbang di angkasa bila banjir melanda desa. Didorong rasa penasaran dan kekagumannya, Abah ingin melihat Sang Kiai terbang, peluang untuk melihat idolanya  terbang mulai terbentang saat hari mulai hujan, dan dibeberapa tempat banjir sudah mulai menggenang, maka Abah pun mencari tempat persembunyian di pingir jalan yang biasa dilewati oleh Sang Kiai, walaupun diguyur hujan deras, Abah tetap ditempat persembunyian menunggu Sang Kiai Terbang, yang ditunggu nggak muncul-muncul hingga hujan mereda. Usut punya usut, Sang Kiai yang ditunggu-tunggu sampai dibela-belain kehujanan ternyata masih tidur di tempat saudaranya. Dari kejadian inilah kemudian muncul kata hikmah, “Tak ada pekerjaan sia-sia”.

 


Aturan Tukang Copet

Menginjak SMP, teman-teman sebaya Abah sudah pada mempunyai sepeda. Abah ingin sekali seperti mereka, memiliki sepeda. Karena nggak kesampaian, maka Abah ingin naik sepur gratis. Kreatifitas dan bakat selalu mampu menemukan pemecahan suatu masalah (problem solving) yang ada pada beliau, membuat mudah untuk memenuhi keinginannya, naik sepur gratis !!, yaitu dengan jalan membantu mengangkat keranjang para bakul. Di dalam sepur beliau malahan berkenalan dengan banyak tukang copet, ada satu hal yang berkesan selama Abah bergaul dengan para copet itu, salah satu peraturannya, “Ojo nyopet wong meteng” (Jangan mencopet wanita hamil). Ternyata di manapun kita berada, etika/peraturan adalah suatu keharusan.

·         Di usia SMP, jangan pernah mencari Abah di rumah, takkan pernah ketemu. Karena Abah selalu berada di Masjid, hingga tidur-pun di Masjid bersama rekan-rekan sebaya. Tidur dengan sarung dari hadiah waktu khitanan, sarung itu-pun sudah congklang, bila ditarik ke atas untuk menutupi muka maka lutut kelihatan dan membuat kedinginan, begitu juga bila ditarik kebawah untuk menutupi kaki,  perut hingga muka kelihatan dan menjadi sasaran nyamuk.

 


Membentuk Gank

Di waktu remaja Abah sudah bisa membuat tambur sendiri, karena pernah berkeinginan bermain drum band. Bashiran dan Slamet pernah dilatih Abah membuat jedur, me-nyamak kulit hingga berlatih main drum band. “Al-Irsyad” adalah grup  Drum Band yang dibentuk Abah dan selalu menjadi pusat perhatian setiap kali ada festival.

Berita tentang gebrakan Abah membuat grup Drum Band cepat menyebar dan menjadi inspirasi para remaja lain untuk menirunya. Karena sudah banyak yang meniru, Abah-pun mencari bentuk lain yang belum terpikirkan oleh orang lain. Beliau dan team-nya menampilkan permainan Barong Sai saat festival dan berhasil menyedot perhatian masyarakat.Waktu itu-pun anak-anak remaja sudah marak dengan tawuran, Abah membentuk Gank dengan anggota anak-anak nakal namun diberlakukan aturan anti tawuran. “Corner Boys Club”, gank bentukan Abah ini menjadikan musik “Hippies” sebagai lagu wajibnya. Karena ingin meniru gaya Hippies, beliau sempat mencuri kacamata dan jas milik Eyang.

 


Kencan Pertama, Naik “Mobil”

Mince, adalah biduanita kaya yang pernah diajak kencan Abah naik truk. Ketika minta ijin pada orang tuanya, Bapaknya bertanya, “Naik apa ?”. Abah menjawab, “mobil”. Ayah Mince mengejar lagi dengan pertanyaan, “ Lha, pulangnya ?”. “Ya dengan mobil”, jawab Abah. Yang penting tidak berbohong kan? Alasan beliau adalah, bukankah truk juga tergolong mobil. Sekarang ini, Mince mungkin masih menjadi teman sejawat Pak Muhtarom.

 

 

 


Menjadi Wali Dari Ayah Sendiri

Setelah ibunda Sukarni wafat, sebagai seorang putra Abah tentu rindu akan kehadiran seorang ibu. Di samping itu sebagai seorang lelaki yang menginjak dewasa, Abah tanggap dan faham betul perasaan Sang Ayah yang tentu saja membutuhkan pendamping untuk berbagi suka dan duka.

Berbekal alasan tersebut Abah memberanikan diri matur pada Ayahanda untuk meminta ijin akan mencarikan pendamping hidup bagi Ayah yang kini menduda, kalimat berkesan yang dijadikan pembuka dialog dengan Sang Ayah adalah, “Maaf Ayah, kali ini saya akan berbicara bukan sebagai anak kepada orang tuanya, tapi saya ingin bicara sebagi sesama lelaki dewasa, …”. Ayahanda tentu saja kaget dengan pernyataan putranya, dan mengijinkan keinginan Sang putra, Abah.

Dengan ijin dan restu Ayah, Abah berangkat menemui seorang wanita yang dulu merupakan kekasih Ayahanda di waktu muda. Wanita tersebut tak lain adalah Mbah Uti yang sekarang kita kenal,  Mbah Uti adalah sosok wanita yang gemi, nastiti, ngati-ati, beliau amat pandai menyulam.

Abah-lah yang melamar Mbah Uti untuk Sang Ayah, dengan kata lain, Abah menjadi wali dari Ayahnya sendiri. Tak heran bila Mbah Uti amat segan dan menghormati Abah yang dapat dikatakan sebagai anak sekaligus sebagai orang tua wali.

 


Hijrah Ke Semarang

Setelah menikah Abah bersama istri tercinta hijrah ke Semarang, tepatnya pada tahun 1971. Bersama Ibu Nyai, beliau mengontrak pada Bapak Muradi di Jl. Badak No …- Semarang. Kamar kontrakan relatif sempit, suasana lebih ‘natural’ karena kamar yang ditempati dekat kandang ayam. Pernah juga Abah bersama Ummi waktu itu tidur di pos ronda. Pak Murtadi, Pak Munawir dan Pak Juwahir adalah saksi bahwa Abah dan Ummi pernah tidur di pos ronda tersebut. Setahun kemudian, yaitu di tahun 1979 barulah Abah aktif bekerja di DEPAG propinsi Jawa Tengah.

·         Tahun 1971, Abah hijrah ke Semarang (mengontrak sebuah rumah di Jl. Badak)

·         Tahun 1972, Abah mulai aktif bekerja di DEPAG Propinsi Jawa Tengah.

·         Tahun 1979, Abah mulai menempati rumah sendiri di Perumahan Ketileng, Sendangmulyo -Semarang

 


Mulang Ngaji Tanpa Gaji

Setelah menikah Abah bersama istri tercinta hijrah ke Semarang, tepatnya pada tahun 1971. Bersama Ibu Nyai, beliau mengontrak pada Bapak Muradi di Jl. Badak No …- Semarang. Kamar kontrakan relatif sempit, suasana lebih ‘natural’ karena kamar yang ditempati dekat kandang ayam. Pernah juga Abah bersama Ummi waktu itu tidur di pos ronda. Pak Murtadi, Pak Munawir dan Pak Juwahir adalah saksi bahwa Abah dan Ummi pernah tidur di pos ronda tersebut. Setahun kemudian, yaitu di tahun 1979 barulah Abah aktif bekerja di DEPAG propinsi Jawa Tengah.

·         Tahun 1971, Abah hijrah ke Semarang (mengontrak sebuah rumah di Jl. Badak)

·         Tahun 1972, Abah mulai aktif bekerja di DEPAG Propinsi Jawa Tengah.

·         Tahun 1979, Abah mulai menempati rumah sendiri di Perumahan Ketileng, Sendangmulyo -Semarang

 

 

 

 

 

 

Ketileng Sebelum “Pencerahan”

 

Ketileng dan sekitarnya pada waktu itu dikenal sebagai dukuh yang  masyarakatnya masih diwarnai dengan kegiatan-kegiatan berbau mistik yang berpeluang menimbulkan syirik.

Konon nama “Sendangmulyo” yang sekarang menjadi nama sebuah kelurahan berasal dari nama sendang (sumber mata air) yang dikeramatkan oleh warga Ketileng. Sendang tersebut dipercaya ada penunggunya yaitu danyang yang berujud seorang wanita cantik jelita.

Masyarakat percaya bila sendang tersebut tidak diberi sesaji/persembahan di waktu-waktu tertentu, maka danyang tersebut akan murka pada seluruh warga desa.

Kegiatan-kegiatan yang menimbulkan kemusyrikan tersebut masih berlangsung hingga awal tahun 1979, tahun dimana Abah Muhammad Saeful Anwar Zuhri Rosyid mulai bermukim sebuah kompleks perumahan Ketileng Indah, Sendangmulyo Semarang.

Sedangkan di perumahan Ketileng Indah juga ada kebiasaan yang juga bertentangan dengan agama Islam, setiap tanggal satu sura (muharram) selalu mengadakan tanggapan ronggeng. Seperti sudah menjadi tradisi, setiap ada pertunjukan ronggeng tersebut para  lelaki  menenggak minuman keras hingga mabuk dan ada juga yang ikut menari.

Adapun kondisi geografis desa Ketileng pada waktu masih tergolong tandus, amat jarang bisa ditemui pepohonan. Sedangkan warganya masih banyak yang menyatukan bangunan kandang binatang piaraan dengan ruangan utama yang dijadikannya tempat tidur. Tingkat pendidikan warganya juga masih tergolong rendah, warga yang lulus SD saja masih bisa dihitung dengan jari.

 

Embrio Kelahiran Pondok Pesantren

Melihat kenyataan dan kondisi masyarakat yang menjadi pilihan tempat hijrah beliau tersebut, muncullah niat untuk membangun kembali tradisi yang sesuai syariat Islam. Sebagai seorang Muslim bertanggung jawab yang mempunyai kewajiban untuk berdakwah,  maka beliau, Abah M. Saeful Anwar Zuhri Rosyid memulai dakwahnya di lingkungan keluarga sendiri.

Dalam dakwahnya di lingkungan keluarga sendiri, beliau tak punya gambaran atau angan-angan sekalipun untuk memiliki santri. Malah beliau pernah mengatakan, waktu itu sebenarnya beliau sangat ummi (belum mengetahui Islam secara mendalam) dalam hal Agama.

Pendidikan dan pendalaman Agama Islam yang beliau terapkan pada istri dan putra-putri beliau sendiri tersebut bukan berarti tak ada keberanian untuk berdakwah langsung pada masyarakatnya, namun hanya sebagai strategi untuk menguasai medan dakwah saja.

 Strategi tersebut cukup berhasil, karena pada kenyataannya pengajian yang berlangsung di lingkungan keluarga tersebut diketahui oleh tetangga sekitar hingga warga desa Gendong    (+ 2 Km arah Selatan desa Ketileng) dan menjadikan para tetangga tertarik yang pada akhirnya mengikutkan putra-putrinya untuk mengaji pada Abah.

Pada awalnya beberapa pemuda dari desa Gendong (+ 2 Km arah Selatan dari Ketileng) yang mendengarnya langsung tertarik dan mengikuti pengajian beliau . Santri Abah yang pertama diantaranya adalah Bukhori, Nur Salimi,, Khoiron dan Madrofah. Setelah ikutnya ke-empat anak ini, yang mengaji semakin bertambah hingga mencapai 150-an orang. Mereka kebanyakan warga desa Gendong dan Pedurungan.

Dengan semakin bertambahnya peserta pengajian tersebut tentu saja dibutuhkan fasilitas dan sarana pendukung bagi kelancaran kelangsungan pengajian, muncullah prakarsa untuk mendirikan sebuah Pondok Pesantren di Ketileng untuk menampung pemuda-pemuda yang haus ilmu itu. Niat tersebut menjadi isu sentral pada rapat baik tingkat RT maupun RW di Ketileng, namun hanya sebatas pembicaraan yang sulit terealisasikan.

 

Masjid Hasil Memijit

Pengajian yang dirintis Abah pada perkembangan selanjutnya bukan hanya mendidik anak-anak dan pemuda saja di kediaman beliau sendiri. Pengajian tersebut kemudian merambah pada pengajian Bapak-bapak maupun Ibu-ibu yang dilaksanakan secara bergiliran di rumah warga yang beragama Islam. Karena penduduk di Perumahan Ketileng yang natabene merupakan warga pendatang yang berasal dari luar Semarang, informasi bahwa di Ketileng terdapat majlis pengajian tersebar luas dalam waktu relatif singkat.

Pada tahap selanjutnya, Abah beserta tokoh masyarakat Ketileng membentuk LAM (Lembaga Amalan Muslim) pada tanggal 13 April awal tahun 80-an sebagai wahanan dakwah umat Islam di Ketileng. LAM waktu itu tentu saja sangat mengaharapkan berdirinya sebuah Masjid sebagai pusat pelaksanaan ibadah bagi umat Islam. Mungkin sudah menjadi suratan, rencana pembangunan Masjid yang menjadi idaman warga Ketileng akhirnya menemukan peluang lewat perantara Bapak Hendro.

Bapak Hendro yang pada waktu itu kakinya patah akibat kecelakan mobil, setelah sembuh lewat perantara “pijitan” Abah yang didampingi Ustadz Sholah, Bapak Nur, dan Bapak Mulyadi,  pada akhirnya bersedia mewaqafkan sebidang tanah sebagai ungkapan terimakasih untuk dijadikan lahan pendirian Masjid.

Maka mulailah proyek pembangunan Masjid yang kemudian hari diberi nama “Al-Maghfur”. Pada masa selanjutnya, Abah merasa kecewa karena Masjid tersebut di-akta notaries-kan sebagai yayasan. Bila sebuah yayasan kemudian mendirikan Masjid itu merupakan kewajaran, namun bila Masjid yang kemudian dijadikan sebuah yayasan merupaka sebuah kedholiman. 

 

Tantangan dan Cemoohan

Dalam mendirikan pondok pesantren tidak sedikit tantangan, cemoohan, hinaan dan rintangan yang beliau hadapi dari warga Ketileng sendiri. Dari masalah status tanah yang akan dijadikan kompleks Pondok Pesantren hingga rintangan yang tidak kasat mata berupa gangguan secara metafisika karena menurut penuturan para sesepuh warga, area yang sekarang menjadi kompleks asrama santri merupakan “kerajaan” para dedemit desa.

Akan tetapi dengan tekad yang pantang menyerah Abah Saeful mulai merintis berdirinya pondok pesantren Az-Zuhri. Boleh dikata beliau bermukim di Ketileng ibarat “Kleyang kabur kanginan.”, berjuang sendiri tanpa rekan yang mau menemani. Semua orang, baik secara individu maupun golongan banyak yang menentang maupun menghalangi langkah Abah yang hendak merintis berdirinya sebuah Pondok Pesantren di Ketileng. Karena segala sesuatunya pasti ada taksis, tokoh-tokoh Kristen, Muhammadiyah, maupun NU masyarakat Ketileng yang menentang bagi beliau dianggap sebagai ujian untuk tetap meneruskan majlis pengajian. 

Bermula dari sebuah kehendak, niat Abah untuk mendirikan sebuah Pesantren tersebut akhirnya mendapat respon dari warga Ketileng hingga muncul ke permukaan musyawarah RT, walaupun sebatas bahasan yang menyentuh masalah teknis namun tidak bersifat praktis. Musayawarah itupun berlanjut hingga tingkat RW, namun tidak sedikit orang yang bisa diibaratkan sebagai “pengamat bola” yang enggan menjadi pelaksana.

Tanggap akan hal tersebut, Abah Muhammad Saeful Anwar ZR mengambil sikap untuk “uzlah” (mengasingkan diri) menghindari khalayak ramai sesuai dasar hadits yang menerangkan bahwa tatkala umat sudah sulit diajak menuju kebaikan maka ber-uzlah-lah. Sedangkan dasar yang melatar belakangi Abah mendirikan Pondok Pesantren Az Zuhri yaitu Al-Qur’an surat At-taubat ayat 122  yang insya-Allah kurang lebih artinya

” Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (kemedan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya.”(QS. At-taubah 122).

 

Makna 1 Juli bagi Az-Zuhri

Pondok Pesantren Az-Zuhri secara resmi didirikan pada tahun 1989, lokasi yang menjadi tempat “peletakkan batu pertama”  yang kini  menjadi asrama santri putri di atas sebidang tanah di depan kediaman Abah sendiri di perumahan Ketileng Indah tepatnya tanggal 1 juli 1989. Sedangkan nama Az-Zuhri tercatat dalam akta notaris bernomor 9 sebagai sebuah Yayasan Pondok Pesantren tepat pada tanggal 11 September 1989 .

Pondok ini didirikan dari sebuah bangunan dengan luas 10 meter persegi, bangunan ini terbagi atas satu petak bangunan yang di dalamnya dibagi atas empat ruangan ,yaitu : untuk tidur santri, satu ruangan  untuk sholat berjamaah dan untuk mengaji, satu ruangan untuk kamar mandi dan satu ruangan untuk dapur. Pada saat itu santri yang mengaji hanya beberapa orang santri putra.

Asrama tersebut pada mulanya hanya dihuni beberapa santri putra . Dengan bertambahnya waktu , ada santri putri yang hendak bermukim. Karena adanya santri putri inilah pengasuh pondok pesantren Az-Zuhri berencana membangun kembali sebuah asrama yang nantinya dihuni oleh santri putra, sedangkan santri putri menempati asrama yang sebelumnya dipakai santri putra.

 Tanah waqaf dari seorang sesepuh dan tokoh masyarakat Ketileng bernama H. Kasipin Jarimin (H. Shodiq) yang berlokasi di Jl. Ketileng Raya No. 13 A ini kemudian dibangun komplek asrama Pondok Putra dengan bentuk leter “L” terdiri dari 5 gota’an (kamar) untuk santri putra dan satu gota’an sebagai Kantor, satu gota’an lagi dijadikan sebagai kamar pengurus. Berbeda dengan lokasi asrama santri putri yang sangat dekat dengan nDalem Abah, lokasi kompleks asrama santri putra ini berjarak kurang lebih 500 m dari kediaman Mudir ‘Aam pp. Az-Zuhri, Abah Muhammad Saeful Anwar.

Pembangunan Masjid di  PP. Az-Zuhri sebagai pusat kegiatan ibadah umat Islam akhirnya terwujud dengan perantara dari waqaf H.Hidayat yang merupakan tokoh masyarakat desa Gendong. Pendirian gedung TPQ yang berada di sebelah selatan asrama santri putra menempati satu area dengan RA Az-Zuhri yang berada di lantai bawah dan TPQ Az-Zuhri di lantai atas. Dalam pembangunannya, semua di kerjakan para santri sendiri yang waktu itu di tukangi oleh santri yang bernama Masrum, dan di bantu oleh santri- santri lainnya . Berkat didikan beliau sekarang Masrum telah menjadi seorang kontraktor dan pemborong yang sukses

Pada waktu itu Abah menginginkan santri yang mengaji pada beliau tidak perlu banyak-banyak, perintisan awal Pondok Pesantren ditempati 24 santri putra dan 12 santri putri. Konsep Abah dalam mendidik santri pernah beliau tuturkan, “Santriku bodho-bodho tapi nduweni Akhlaqul Karimah.” ( “Santriku bodoh tapi punya akhlaqul karimah”). Konsep demikian pada kenyataannya memberi kesadaran pada kita bahwa hanya orang yang merasa bodoh yang akan terus mencari ilmu, dan hanya orang berilmu yang bisa memiliki “akhlaqul karimah”.

 

Daerah Binaan

Kehadiran pondok pesantren Az-Zuhri semakin mewarnai kehidupan di masyarakat Ketileng dan sekitarnya. Pada perjalanannya, Abah Muhammad Saeful Anwar ZR pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Az-Zuhri mulai melebarkan kawasan dakwahnya. Seringkali beliau memberi ceramah-ceramah Agama di daearah Pedurungan, Sambiroto, Kedungmundu, Salak Utama, Rogojembangan, Rumpun Diponegoro,  Sinar Waluyo, Medoho, Karang Ayu dan Krobokkan.

Daerah-daerah tersebut secara rutinitas mendapat binaan dan bimbingan beliau, daerah binaan tersebut adakalanya masyarakat sekitarnya masih sangat buta sama sekali tentang Islam hingga perlu bimbingan tentang syari’at Islam yang benar. Adapula yang di daerah tersebut belum ditemukan sebuah tempat ibadah untuk berjama’ah, sehingga beliau-pun harus terjun langsung dalam perintisan dan pendirian Mushola ataupun Masjid di daerh tersebut.

Dalam perkembangannya, karena keterbatasan fisik, seringkali beliau mengutus seorang santri untuk melanjutkan misi dakwahnya dalam memberi bimbingan dan dukungan pada daerah tersebut. Bahkan menginjak tahun berikutnya daerah binaan tersebut melebar pada daerah di luar kota Semarang.

Sulit dipungkiri bahwa kehadiran Pondok Pesantren Az-Zuhri mempunyai dampak positif bagi masyarakat yang melingkupi berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Bila Ketileng dulu dikenal sebagai “daerah rawan”  kini masyarakat sekitar berdatangan yang berpotensi menambah kemakmuran. Bila Ketileng dahulu daerah yang gersang, sekarang tanahnya mulai mampu memberikan kehidupan pada tanaman. Desa Ketileng yang pada mulanya merupakan kawasan yang dipenuhi kegiatan kemusyrikan kini berganti pada semakin maraknya kegiatan-kegiatan yang bernafaskan Islam.

Dampak lainnya juga menyentuh aspek perekonomian dan pendidikan masyarakatnya yang semakin menunjukkan peningkatan dengan ditandai semakin bertambahnya lembaga pendidikan formal di sekitar wilayah ketileng, juga  munculnya toserba-toserba yang menyediakan kebutuhan sehari-hari warganya. Fasilitas pelayanan kesehatan juga semakin berkwalitas dengan adanya sebuah Rumah Sakit Negri di kawasan ini.

 

4 Comments so far

  1. rubino sriadji May 1st, 2008 2:59 am

    Assalamu’allaikum Wr.Wb.

    Alhamdulillah setiap usaha yang sungguh-sungguh dan doa akan menghasilkan nilai, saya salut dan hormat terhadap proses perjalanan Syeikh Abah Syaiful Anwar, bukan hanya proses kebenaran dan hidup lurus yang menjadi nilai, tapi kenyataan akan hiruk pikuk kehidupan Abah menjadi warna tersendiri… perjuangan tidak pernah berakhir…

    bahagia selalu dan tetap semangat
    salam hormat,

    rubino sriadji

  2. awang July 2nd, 2008 11:34 am

    subhanALLAH…
    “sesunguhny amanah itu tdaklah dtang pda orang yang salah”

    delem ngalab barokahipun lan nyuwun tambah pangestu abah…dalem tansah nenggo fatwanipun abah

    mugi2 abah tansah pinaringan sehat,umur panjang inkang barokh,amin

  3. Az-ZuLf@ August 24th, 2008 10:03 pm

    Begitu besar peran Abah bagi kemajuan Islam di Ketileng khususnya dan di Semarang pada Umumny. Tetapi tidak hanya itu, Abah juga menyebarkan dakwah Islam di luar daerah spt Purwokerto, Banyumas, Purbalingga, dan masih banyak lagi.
    Saya sebagai pengagum sosok Abah yang begitu murah senyum, mencerminkan akhlaq Rasulullah hanya bisa berdoa “Atholallahu ‘Umrohu, Barakallahu Umrohu”
    Semoga Abah diberikan panjang umur, sehat dan selalu dalam lindungan Allah, Amiin..

  4. Aris Wibowo September 2nd, 2008 10:43 pm

    Dengan adanya tulisan ini saya berharap bisa menambah kecintaanku pada Abah Syech M.Syaiful Anwar.Dan Bisa lebih tekun lagi beribadah sesuai yang Beliau ajarkan selama ini,Amin

Leave a reply