Mujaddid
Mujaddid, Majalah Kaum Santri
Diterbitkan oleh :
Pondok Pesantren AZ-ZUHRI, Ketileng - Semarang
Penasehat & Pelindung A b a h e
Pemimpin Umum Gus HM. Luqman Hakim
Koresponden
Hukum & Keilmuan KH. M. Ma’shum Abdurrahman, SSos
KH. Drs. Sholahuddin
Pemimpin Redaksi
Redaktur Kang H. Farkhan S
Kang Sholeh El-Hady, SE
Kang Drs. S. Widodo, MM
Kang Imam Muhammadiyah, SSos
Kang Bisowarno
Ass. Redaktur
Bendahara Kang Mujahid
Kang Haris Assamaranji
Yu Isnaini Mukaromah
Yu Maria Adheningrum
Kang Khomsun
Setting & Lay Out Kang Samtim E. Putranto, SKom MM
Kang M. Makmun Saebani
Kang Supriyadi
Distribusi & Pemasaran Kang Imam Syafi’i
Kang A. Muhajir
émb׊ië !a ò»‰ëáØîÜÇâýŽÛa
Penerbitan mujaddid edisi ke-26 ini merupakan edisi lanjutan dari edisi ke-25 yang sesaat setelah itu, tim mujaddid belum menerbitkan edisi lanjutan, maka sebelumnya kami mohon maaf atas keterlambatan kami dalam menerbitkan edisi ini. Dalam penerbitan kali ini kami berusaha untuk “menyuguhkan” edisi - edisi dengan bentuk dan disain yang mudah – mudahan lebih bisa diterima dan dinikmati pecinta mujaddid.
Sebagai salah satu bentuk perubahan dalam penampilan mujaddid kali ini adalah, kami berusaha untuk menangkat kembali tradisi dan budaya jawa yang dalam edisi – edisi sebelumnya juga sudah pernah diangkat dalam “fahrosah jawaniyah” dan insya-Allah untuk seterusnya kami mohon do’a dan dukungan dari berbagai pihak untuk bisa senantiasa ikut serta “nguri – nguri kabudayan jawa” lewat tulisan dan saran yang dikirimkan ke krew kami dan akan kami muat dalam “fahrosah jauviyah”. Karena “kabudayan jawa” dirasa semakin mengalami erosi atas perkembangan zaman. Namun dalam fatwa Abah disela – sela pengajian ngendikan : “ Jangan menyalahkan zaman, karena zaman tidak akan berubah, akan tetapi yang berubah adalah sikap hidup dan perilaku orangnya” dan “ Wong jowo ojo ilang jawane, wong islam ojo ilang islame”.
Berangkat dari itu kami memberikan satu fahrosah “Jauviyah” sebagaimana ngendikanipun Abah : “opo jawa iki ora teko kalimat arab Jauv sing artine adoh/ono ing theleng”(majlis pengaosan malam kamis) dari “ngendikanipun” Abah tersebut ternyata ada banyak hal dan fenomena yang bisa diangkat dalam rubrik ini, seperti yang pernah dipun ngendikakake Abah : bahwa “Wali songo iku ono sing ngendikakake piyantunipun asli saking tanah jawa”, “Nabi Adam iku tumurune ing tanah jawa”, “Tekane islam ing tanah jawa iku ora ing abad ke-13 ananging sadurunge iku islam wis ono ing tanah jawa” dan masih banyak lagi. (redaksi)
émb׊ië !a ò»‰ëáØîÜÇâýŽÛaë
Tafakkur :
Misteri Rahasia Ilahi
Namun haruskah kita berdiam diri bila pada perjalanannya proses dakwah tersebut menjadi “bulghotal majlis”, pembahasan dan penyajiannya semakin ngoyoworo merambah ke mana-mana tanpa tujuan dan arah yang jelas.
Sajian Utama
Maka dari satu bagian tersebut menjadikan “ para makhluq mempunyai sifat saling mengasihi, sehingga induk binatang-pun mengangkat kakinya karena khawatir bisa mengakibatkan anaknya terinjak.”
As-Sakinah :
Ibuku, Madrasah Pertamaku
Alangkah baiknya bila ada seorang wanita yang menuntut ilmu setinggi mungkin namun bukan untuk berkarir di luar rumah, melainkan engan ilmunya tersebut dijadikan modal untuk menjadi “dosen” bagi putra-putrinya.
Tadzkir MENGHORMATI SYA’BAN : Tanpa berlebih-lebihan 5
Tafakkur Misteri Rahasia Ilahi 8
Jaringan Mistik Islam Jawa 14
Sajian Utama Anatara Bulan Rajab, sya’ban dan ramadhan 17
As-Sakinah Ibuku, Madrasah Pertamaku 25
Muroja’ah Menggapai Berkah Ilahi 30
Saatnya Berbahagia 31
Ta’aruf Kenangan Bulan Rajab 34
Ibroh Wacana Ilmiah Isro’ Mi’roj 38
Bagaikan satu tubuh 40
Serpihan Peringatan Kemerdekaan 42
At-Tarikh Masjid Al -Aqsho 46
Jauviyah Wayang 52
Tokoh Imam Bukhori 56
Warta Ma’had Warta Ultah Ma’had 58
Redaksi mengajak pembaca khususnya Jama’ah Pengajian Keluarga Besar PP. Az-Zuhri untuk mengirimkan naskah, saran ataupun kritik.
Cantumkan pula nama anda.
Kirimkan segera ke :
Redaksi Mujaddid, Pondok Pesantren Islam Salafiyah
Az-Zuhri, Jl. Ketileng Raya 13 A Sendangmulyo
Semarang
Kode Pos 50272.
INFO
“JADWAL MAJLIS PENGAJIAN”
Karena ada beberapa pembaca “Mujaddid” yang berminat mengikuti Majlis Pengajian di PP. Az-Zuhri dan meminta agar jadwal tersebut ditampilkan di sini, maka berikut kami susun secara sederhana jadwal tersebut sebagai acuan Kakang dan Mbak Yu Santri Keluarga Besar PP. Az-Zuhri:
PENGAJIAN HARIAN
04.15 – 06.00 Majlis Pengajian Jalalain (Ba’da Shubuh, Setiap Hari)
(Tempat : Aula Putri)
09.30 - 10.30 Majlis Ulum Al-Qur’an (Waktu Dhuha, Setiap hari )
(Tempat : Aula Putri)
13.00 - 14.00 Majlis Bidayatul Hidayah (Waktu Ba’da Dhuhur, Setiap hari )
(Tempat : Aula Putri)
16.30 – 17.30 Majlis Bulughul Marom (Ba’da Ashar, Setiap hari Senin – Kamis)
(Tempat : Aula Putri)
19.30 – 21.00 Majlis Durrotun Nasihin (Ba’da Isya, Setiap malam Selasa, malam Rabu & malam Sabtu)
(Tempat : Aula Putri)
PENGAJIAN MINGGUAN
Malam Kamisan
Waktu : 19.30 – 21.00
Tempat : nDalem
(Jl. Ketileng Indah III/ 6)
Jum’at Siang (Ba’da Shot Jum’at)
Waktu : 13.00 – 15.00
Tempat : nDalem
(Jl. Ketileng Indah III/ 6)
PENGAJIAN SELAPANAN
Senin Legi (PP.Az-Zuhri)
Waktu : 13.00 – 16.30
Tempat : nDalem
Mujahadah Jum’at Kliwon
Waktu : 19.30 – 23.30
Tempat : Masjid Baitul Hidayah
(PP. Az-Zuhri)
Mujahadah Senin Legi (Jepara)
Waktu : 19.30 – 23.30
Tempat : Jepara
(Kediaman H. Kodi)
Manaqiban Malam Selasa Kliwon
Waktu : 19.30 – 21.00
Tempat : Jl. Taman Singotoro
(Kediaman H. Abdus Shomad)
Manaqiban Malam Sabtu Kliwon
Waktu : 19.30 – 21.00
Tempat : Manyaran
(Kediaman H. Haris S.)
Selain majlis pengajian tersebut di atas, masih ada Pengajian Umum memperingati Hari Besar Islam (PHBI), diantaranya, Maulid Nabi Muhammad SAW (Muludan), Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW (Rajaban), Nuzulul Qur’an, Khoul Sayyidatina Fathimah Az-Zahra RA (Syawalan). Amalan Asy-Syura dan Nisfu Sya’ban.
Menghormati Sya’ban
Tanpa Berlebihan
Pada zaman tabi’in,
menghormati dan mengagungkan
bulan Sya’ban sudah merupakan tradisi dalam beribadah.
Namun dalam perkembangan
sesudah generasi berikutnya,
penghormatan yang seharusnya direfleksikan
dengan cara menambah kesungguhan dalam beribadah
bergeser menjadi pengagungan yang sifatnya “dhohiriyah” saja.
Hal inilah yang menjadi khilafiyah (perbedaan pendapat ) para ‘Ulama dalam menyikapi
penghormatan orang mu’min
pada bulan Sya’ban
Dalam hal mengormati bulan Sya’ban, para Tabi’in di negara Syam, seperti Kholid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amr, Ibrohim Rahimahullahu semuanya mengagungkan dan memuliakan bulan Sya’ban khususnya nisfu Sya’ban dengan cara bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Tradisi menghormati bulan Sya’ban berjalan secara turun temurun dan dilestarikan oleh generasi sesudah para tabi’in tersebut. Namun sayang bila di kemudian hari – seiring semakin jauhnya jarak dimensi waktu dari para tabi’in – tradisi tersebut mengalami distorsi/pergeseran. Menghormati dan mengagungkan bulan Sya’ban yang seharusnya direfleksikan dengan menambah kesungguhan dalam beribadah pada Allah Azza Wa Jalla bergeser pada penghormatan yang sifatnya secara dhohiiriyah (fisik) saja.
Khilafiyah Para ‘Ulama
Tak mengherankan bila pada masa berikutnya para ‘Ulama ikhtilaf/berbeda pendapat secara teknis dalam hal mengagungkan bulan Sya’ban. Sebagian ‘Ulama ada yang merekomendasi keutamaannya menghormati Sya’ban, namun ada juga ‘Ulama yang melarang hal tersebut. Ulama’ yang melarang tersebut kebanyakan ‘Ulama dari negara Hijaz, melalui fatwa : “Mengagungkan Nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) adalah bid’ah” .
Seorang Mu’min seharusnya tatkala malam Sya’ban datang menyambutnya dengan sholat malam, membaca Al-Qur’an dan berdzikir pada Tuhan Penguasa Alam.
Berkumpul di Masjid tatkala malam Nisfu Sya’ban, dan melaksanakan sholat sunah dengan berjama’ah merupakan suatu kemakruhan. Bahkan menurut Imam ‘Auza_I yang merupakan seorang Imam di negara Syam dan masyhur ke’aliman serta ahli fiqh, sholat nisfu Sya’ban termasuk perbuatan makruh.
Dimakruhkan pula menghormati Sya’ban dengan cara menghiasi Masjid, sebagi misal menyalakan semua lampu Masjid dengan maksud agar lebih semarak dan gemerlap. Sebab menyalakan lampu di Masjid Jami’ lebih-lebih pada bulan Sya’ban tidak diperbolehkan (sebgaimana disebutkan dalam Kitab “Kinayah”).
Begitu juga termasuk bid’ah bila menghormati Sya’ban – namun sebatas penghormatan ceremonial, tanpa adanya ruh kecintaan – sebagai misal menghiasi jalan, pasar dan tempat-tempat umum lainnya dengan gemerlapnya lampu-lampu yang beraneka ragam.
Bahkan dikatakan bila seseorang menyalakan lampu di Masjid, maka ia mempunyai kewajiban untuk mengganti biaya operasional lampu tersebut. Bila ada orang yang mewaqafkan “kemanfaatan” lampu dengan maksud untuk menghormati bulan Sya’ban, maka perbuatan itu tidak tergolong waqaf dalam arti syar’i. Sedangkan apabila biaya operasional dari lampu bukan merupakan harta waqaf sehingga dalam menyalakan lampu diniyatkan hanya karena Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala, maka perbuatan tersebut termasuk tabdzir (menyia-nyiakan harta). Padahal menyia-nyiakan harta diharamkan, karena Rosulullah SAW melarang untuk menyia-nyiakan harta.
Dan apabila menyalakan lampu tersebut dimaksudkan sebagai sarana bertaqorub pada Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala, maka hal itu tergolong bid’ah besar, perbuatan terkotor dari yang paling kotor.
Disebutkan pula, sholat sunnah yang dilakukan secara berjama’aah di bulan Sya’ban termasuk bid’ah yang keji, yang wajib disingkiri dan dihindari. Sebab ‘Ulama Fiqh sudah iltifat mengenai kemakruhan melaksanakan sholat sunnah secara berjama’ah kecuali pada sholat tarwih (sholat malam di bulan Romadhon), sholat istisqo’(sholat -memohon datangnya hujan), sholat kusuf (sholat tatkala gerhana matahari) dan sholat husyuf (sholat disaat gerhana bulan) . (_@ssamaranji)
Tanbih :
Larangan tabdzir (menyia-nyiakan harta) inilah yang menjadikan mengapa dalam setiap pelaksanaan mujahadah di Az-Zuhri, selalu saja lampu dimatikan.
Yang dalam bahasa sederhana, Abah pernah “ngendikan” suatu alasan simpel, “Dengan lampu dimatikan, biar yang mujahadahnya ngantuk, nggak merasa malu karena dilihat teman. Biar yang datangnya terlambat, tidak merasa sungkan karena kedatangannya tak terlalu menarik perhatian”.
Sumber : Abah, Majlis Durrotun Nasihin
26 Sept ’03
***) Tanpa mengurangi sikap kehai-hatian, proses translate dari bahasa Jawa (yang merupakan bahasa ibu kalangan Pesantren) ke dalam bahasa Indonesia tentunya masih terdapat banyak kekurangan dan mengganggu keindahan susunan bahasa sebenarnya. Dalam hal ini, penulis mohon maaf.
Misteri
Rahasia Takdir Ilahi
Dewasa ini, sebuah majalah yang didominasi kisah tentang “adzab” yang diterima seseorang waktu meninggal disebabkan amal perbuatan di masa hidupnya sungguh menyedot hati pembaca Nusantara. Apalagi setelah kisah-kisah dalam majalah yang diadaptasi dari sebuah majalah di negeri jiran tersebut diangkat ke dalam layar kaca, sungguh amat fenomenal karena mampu merubah genre suguhan sinetron pertelevisian kita, yang tadinya berkutat pada masalah remaja dan romantisme kisah-kasihnya serta masalah perebutan warisan dan intri-intrik anggota keluarga, kini dunia sinetron kita didominasi kisah tentang adzab atau balasan yang diterima seseorang akibat perbuatannya. Dengan diakhiri taushiyah oleh seorang ustadz, tentu saja sinetron-sinetron tersebut –dianggap- bernafaskan Islam.
Euforia itu masih berlanjut hingga sekarang, disatu sisi hal tersebut mungkin bisa dikatakan “kebangkitan” nilai-nilai Islam. Namun benarkah demikian ?, mengingat semakin kesini kita merasakan bahwa berbagai sinetron tersebut semakin mempermainkan pengetahuan penontonnya tentang akidah Islamiah. Masihkah bisa disebut bernafaskan Islam bila lebih menonjolkan sisi mistik belaka dan terlalu didramatisir adanya. Masihkah sesuai akidah Islamiah bila sudah berani menggunakan istilah “karma” yang sebenarnya tak ada dalam konsep Agama kita. Lebih-lebih ada sebagian serialnya yang berani memvisualisasikan sosok Malaikat yang untuk menggambarkannya saja diluar kemampuan manusia. Okelah bila hal tersebut dikatakan sebagai “gambaran tergampang untuk akal manusia yang dangkal”, namun untuk membuat suguhan yang lebih siip haruskah mengorbankan masalah akidah yang lebih prisip.
Tradisi latah dan ikut-ikutan pada industri pertelevisian kita itulah yang sesungguhnya menodai proses dakwah yang diusahakan oleh segolongan kaum Muslim kita, namun kita tak berhak menyalahkan mereka karena memang demikianlah sistem industri pertelevisian yang dituntut untuk selalu meraih keuntungan, dengan mengeksploitasi emosi para penontonnya namun mengabaikan nilai-nilai pendidikan dan pembelajaran.
Perlu kami tekankan, dalam hal ini kami tak bermaksud mencari-cari aib pihak-pihak lain yang mempunyai niat luhur dan ikhlas untuk memberi konstribusi pada proses dakwah Islamiah. Namun haruskah kita berdiam diri bila pada perjalanannya proses dakwah tersebut menjadi “bulghotal majlis”, pembahasan dan penyajiannya semakin ngoyoworo merambah ke mana-mana tanpa tujuan dan arah yang jelas. Tidakkah kita perlu mengingatkan bila melihat saudara Muslim yang punya niat kholis untuk mendalami Agamanya namun di tengah jalan tergiur oleh konsep-konsep kapitalis, karena bila kita mau jujur suguhan-suguhan “islami” tersebut semakin latah mengadopsi unsur-unsur mistik dan horor untuk mengejar ratting yang pada gilirannya mempunyai tujuan komersil.
Dalam melihat suatu hal kita perlu bersikap obyektif, dalam menyikapi suatu kasus kita harus fair menanggapinya. Begitu juga dalam menyikapi hal ini, Sebenarnya ada beberapa manfaat yang dihasilkan oleh kemunculan sinetron-sinetron bertitel “Illahi” tersebut, mengingat sangat efektifnya media audio visual dalam merubah suatu gaya hidup suatu masyarakat, bahkan mampu merubah paradigma atau cara pandang bagi para pemirsa. Namun sayang –sekali lagi- sikap latah itulah yang menggeser dan menodai tujuan awal konsep dakwah kita.
Ada beberapa penyimpangan dan pergeseran yang perlu kita perhatikan mengenai arah dan tujuan dakwah Islamiah melalui suguhan sinetron-sinetron tersebut, beberapa diantaranya mungkin hanya sebatas teknis namun ada juga yang sudah termasuk masalah prinsip yakni menyangkut akidah, penyimpangan tersebut antara lain :
Pertama, terjerumus pada mencari-cari ‘aib si mayit (tokoh utama). Dalam beberapa serial, tokoh utama yang menerima “peringatan” semisal mulut keluar belatung, rambut dipenuhi kutu, liang lahat menyempit, tanah kubur mengalir darah tersebut amat terasa dicari-cari ta’ziyin (orang yang berta’ziah) yang seharusnya tidak dijadikan bahan pergunjingan. Ada lagi yang lebih mengganjal, pada sebuah episode dimana si mayit mendapat “adzab” karena liang kuburnya selalu dipenuhi air, seorang ta’ziyin bertanya di tempat itu pula, “Apa yang dilakukan orang ini semasa hidupnya ya Ustadz, sehingga menerima adzab demikian?”, anehnya lagi Ustadz yang digambarkan dalam episode tersebut seraya berpikir sejenak kemudian menceritakan amal-amal perbuatan si mayit semasa hidupnya dan dari sinilah kisah tersebut mengalir.
Bila hal tersebut disahkan dengan alasan “sebagai ibroh agar kita dapat memetik pelajaran” , sama saja kita membolehkan ngrasani/ menggunjing mencari-cari kejelekan orang lain dengan alasan, “ah…., itu kan hanya kita jadikan bahan peringatan. Tak lebih”. Benar-tidaknya alasan tersebut ada dalam kejujuran kita, namun kejuran kita sendiri sering dipermainkan hawa nafsu dan akal rasional. Oleh karenanya, jangan lupa bahwa kita masih memiliki ‘Ulama yang bisa menyelamatkan akidah Agama.
Ke-dua, mengabaikan kasting. Sebenarnya dalam hal ini bukan kapasitas kita untuk menilai proses kasting dalam industri sinetron di Negara ini. Hanya saja, pada awal kemunculan sinetron bertitel “Illahi” ini berjanji pada pemirsa bahwa tokoh yang memerankan sepasang suami-istri atau orang tua-anak haruslah benar-benar memiliki hubungan saudara/muhrimnya. Namun apa yang terjadi pada perjalanan selanjutnya ?.
Ke-tiga, haruskah memvisualkan kemaksiatan ?. Dalam sebuah episode yang mengisahkan tentang taubatnya seorang ahli maksiyat, alur cerita flash back yang dianut mengharuskan untuk menceritakan kembali perbuatan-perbuatan maksiat masa lampau tokoh tersebut. Namun yang menjadi masalah haruskah kisah masa lampaunya divisualkan agar lebih dipahami pemirsa, karena dalam kenyataannya episode tersebut berani menggambarkan kemaksiyatan-kemaksiyatan yang pernah dilakukan si tokoh utama, dan yang amat disayangkan adalah adegan saat si tokoh berada di lokalisasi yang jelas-sekali menampilkan tokoh wanita nakal dengan atribut pakaian minimnya.
Ke-empat, visualisasi alam ghaib yang terlalu berani. Penyimpangan semakin menjadi-jadi tatkala tuntutan skenario mengharuskan untuk menggambarka situasi alam kubur, beberapa episode bahkan telah berani memvisualkan sosok malaikat. Agaknya mereka latah dan ingin meniru special effect dari adegan-adegan “situasi akherat” dalam serial Si Kera Sakti Dari Gunung Ghuang Ho, Sun Go Kong. Sungguh memalukan untuk perkembangan industri sinetron kita – karena makin menunjukkan kreatifitas sineas kita yang minim – , dan sungguh menakutkan dampaknya bagi pembentukan akidah masyarakat Muslim.
Ke-lima, penggambaran tokoh “Kiai”/”Ustadz” yang lebih identik dengan sang pengusir roh jahat. Memang tidak semua tokoh “Ustadz”/”Kiai” dalam beberapa sinetron bertitel “Illahi” tersebut digambarkan demikian, namun karena masyarakat kita masih menganut peribahasa “nila setitik, rusak susu sebelangga” maka hal tersebut menjadi amat ironis dalam pembentukan image Agama kita.
Bagaimana jadinya bila serial sinetron tersebut dikonsumsi oleh mereka yang pemahaman tentang Agamanya saja masih dangkal, lebih-lebih bagi mereka yang belum mengenal Islam, apa tidak malah menggiring image yang salah tentang sosok Ustadz/Kiai yang sebenarnya menjadi rujukan umat dalam berbagai ilmu pengetahuan ketimbang sekedar mengusir arwah gentayangan. Ilmu Islam amatlah luas, dan justru karena keluasan tersebut menuntut umatnya untuk mempelajari setahap demi setahap.
Menjadikannya Sebagai Ibrah (mengambil pelajaran)
Sah-sah saja bagi mereka yang menganggkat kisah-kisah “adzab” tersebut dengan tujuan dijadikan sebagai ibrah (mengambil pelajaran). Namun sebaiknya perlu dikaji kembali definisi dan batasan-batasan ibrah sendiri.
Pengambilan ibrah sendiri bisa dilakukan melalui kisah-kisah teladan, fenomena alam atau peristiwa-peristiwa yang terjadi, baik di masa lampau maupun masa sekarang. Pelaksanaan metode ini di Pesantren, biasanya disertai dengan metode mauidhoh (nasehat).
Secara sederhana, ibrah berarti merenungkan dan memikirkan, dalam arti umum biasanya dimaknakan dengan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Abd Al-Rahman Al-Nahlawi, seorang pendidikan asal Timur Tengah, mendefinisikan ibrah dengan suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia untuk mengetahui intisari suatu perkara yang disaksikan, diperhatikan, diinduksikan, ditimbang-timbang, diukur dan diputuskan secara nalar, sehingga kesimpulannya dapat mempengaruhi hati untuk tunduk kepadanya, lalu mendorongnya kepada perilaku berfikir sosial yang sesuai. (Tamyiz Burhanudin, Akhlak Pesantren : Pandangan KH. Hasyim Asy’ari –Yogyakarta, Ittaqa Press, 2001 - ).
Melihat masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, agaknya para kapitalis menganggapnya sebagai ladang dolar dengan cara mengekploitasi dan mempermainkan kedangkalan umat Islam sendiri akan ilmunya. Dengan mengesampingkan dampaknya bagi pembelajaran akidah umat, mereka sudah melaksanakan “sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui”. Di satu sisi merekalah yang bisa mereguk dolar dari masuknya sponsor dalam tayangan tersebut, di sisi lain mereka berhasil mengobok-obok metode “mengaji” kita. Bukankah dengan menjamurnya suguhan-suguhan ibrah tersebut, akan menggiring pada alasan, “Tak usah mengaji lagi pada Kiai, kan sudah cukup kita mengaji di tivi !”.
Sikap Proporsional
Jika bukan dikarenakan Abah Syeikh pernah melontarkan sebuah wacana mengenai “mengaji di tivi”tersebut, kamipun tak berani mengulasnya. Jujur saja kita akui, saat ini dalam pergaulan internasional kondisi umat Islam sedang terpuruk. Jujur kita akui, umpan para missionaris berupa diskriminasi dan cemoohan “teroris” sudah berhasil memancing kemarahan umat Islam sendiri ke arah tuduhan itu. Jujur kita akui, umat Islam sendiri sudah tidak bangga dengan khazanah Islamiah. Jujur kita akui, pemikiran-pemikiran para missionaris berhasil mendominasi umat dan berharap umat Islam meninggalkan ‘Ulama-nya, dengan begitu umat mudah terkotak-kotak. Namun yang perlu disadari adalah bahwa pengakuan kita akan keterpurukan, kekalahan, dan terpinggirkan dari pergaulan internasional akan menjadi kemunafikan bila tanpa dibarengi usaha.
Justru pengakuan-pengakuan yang dilandasi kejujuran tersebut akan mendorong umat Islam untuk bangkit kembali. Mereka para orientalis menggunakan media untuk mengusung ideologi-ideologinya, mengapa kita tak memanfaatkan mereka juga dengan bersikap sedikit kooperatif dan menjalin kerjasama “simbiosis mutualisme”. Dengan demikian media audio visual dengan segala dampak kebaikan dan kejelekannya dapat kita manfaatkan sebagai sarana dakwah tanpa harus megorbankan akidah. (***@ssamaranji).
JARINGAN MISTIK ISLAM JAWA
Oleh : Kang Abu M. Bagus Hidayatullah Al-Quds.
Mistikus Islam di Jawa telah dikenal sebagai sebuah hantu bagi Aqidah Islam, jawa yang merupakan sebuah kultur terbuka yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap budaya apapun memungkinkan terjadinya ekstrim akulturasi terutama akulturasi Islam dan Jawa.
Bila kita mengkaji mengkaji hal ini akan dengan cepat teringat sebuah nama yaitu Syeikh Siti Jenar atau Syeikh Lamah Bang, Siti Brit dan Siti Rekta. Awal mulanya adalah ketika Sunan Bonang akan memberikan Wajangan Kalam Ma’rifatillah atau wejangan kelas tinggi kepada Sunan Kalijaga agar Sunan Kalijaga dapat Nyesep Ngelmu Kasempurnan atau Ilmu Hakikat, Sunan Bonang mengajak Sunan Kalijaga untuk diajak mengaji diatas perahu diatas lautan luas agar ketika Sunan Bonang mbeber kaweruh tidak menggoncang dunia karena tidak semua orang berhak mendengarkan ilmu tersebut. Namun karena perahunya bocor maka Suanan Kalijaga menambalnya dengan lempung (tanah liat), namun para Wali tersebut tidak mengetahui bahwa dalam tanah liat tersebut terdapat seekor cacing, karena cacing tersebut ikut mendengarkan ilmu tersebut maka cacing tersebut berubah menjadi manusia yang kemudian diberi nama Siti Jenar.
Tokoh ini selanjutnya menjadi orang yang sangat cerdas dan terkenal ilmunya, Siti Jenar mendirikan perguruan dan memiliki beberapa murid yang terkenal diantaranya yaitu : Ki ageng Pengging, Ki Jaka Tingkir dan Pangeran Panggung. Di perguruan ini Syekh Siti Jenar kemudian mengembangkan aliran Wahdatul Wujud atau yang lebih dikenal dengan Manunggaling Kawulo Ing Gusti, Syekh Siti jenar meyakini bahwa antara Allah dengan manusia terdapat Ittihad atau persatuan mutlak dan setiap hari para manusia harus melaksanakan Ittihad tersebut. Hal ini tentunya tidak dapat dibenarkan karena Allah adalah Tuhan dan manusia adalah makhluk, bagaimana tuhan dengan makhluk adalah sebuah persenyawaan? Sedangkan air dan minyak saja tidak dapat menyatu.
Ajaran kesatuan mutlak (ittihad) ini memiliki visi bahwa Tuhan dengan makhluk adalah bagaikan api dengan nyalanya, laut dengan ombaknya dan bunga dengan sarinya, hal ini dipengaruhi oleh filsafat Ibnu Farabi (1165-1240) dan al-Hallaj (858-922). Sehingga ajaran ini mendapat tantangan keras dari para Wali.
Mistisme Islam Jawa sangat dipengaruhi oleh beberapa tokoh mistikus Islam yaitu : Abu Yazid Al-Bistomi (875 M), Hussein bin Mansyur al-Hallaj (858-922 M), Ibnu ‘Arobi (1240 M), Muhammad ibnu Faddilah yang terkenal dengan kitabnya Al Mursalah Ila Ruh An Nabi di gujarat India (1620). Ulama Aceh pun ikut juga memberikan andil dalam mempengaruhi adanya Mistisme Islam di Jawa mereka adalah : Hamzah Pansuri (1630 m), Syamsuddien Pasai (1636 M), Nuruddin Ar Raniri (1644 M) dan Abdul Ra’uf Singkel (1690 M). dari beberapa penjelasan tersebut diatas ada beberapa pesan yang menjadi tujuan penulisan artikel ini adalah :
Apabila terjadi da’wah yang memberikan bahwa Allah dapat menyatu dengan makhluk, maka tinggalkanlah majelis tersebut.
Pahamilah Aqidah Islam dengan sebaik-baiknya dan dengan dibimbing oleh Guru yang mumpuni.
Apabila terdapat bacaan dari tokoh-tokoh diatas hendaknya hanya dijadikan bahan bacaan semata dan jangan diyakini karena bacaan tersebut apabila kita tidak dapat memahami secara detail akan mengarahkan kita kepada kemusyrikan.
Dan seperti pesan dari Hadlrotusy Syeikh Abah M. Saeful Anwar Z.R :”Bahwa syariah, Thoriqoh dan Ma’rifat adalah berjalan bersama.” (Mujaddid’s Crew)
Gambaran Fisik
Rasulullah SAW
Dalam Kitab Dziba’
?????????? ???? ??? ?? ??
Kedua pelipisnya baercahaya cemerlang, rambutnya bagaikan malam gelap gulita/ hitam pekat.
?????? ?? ???? ???? ???? ??????
Bagaikan huruf alif bentuk mancung hidungnya, bagaikan huruf mim bulat mulutnya, bagaikan huruf nun lengkung keningnya.
???? ???? ?? ?? ????? ???? ??? ????? ????? ? ?? ??
Pendengarannya dapat mendengar geritan qalam di l\Lauh Mahfudz, penglihatannya dapat menumbus sampai ke langit tujuh.
ANTARA BULAN RAJAB, SYA’BAN DAN
RAMADHAN
Diriwayatkan dari Sayyidatina Aisyah RA, berkata bahwa Rosulullah SAW bersabda : “Di hari kiamat semua manusia akan merasakan lapar kecuali Anbiya’ (para Nabi) dan ahlinya, orang yang puasa di bulan Rajab dan Sya’ban dan Ramadhan. Maka sesungguhnya orang-orang tersebut selalu merasa kenyang, terhindar dari rasa lapar dan dahaga.” (dalam “Zubdatul Wa’idhin”). Sumber : Durrotun Nasihin, Majlis 25.
Bulan Rajab dengan segala kenangan peristiwa Isro’ Mi’roj-nya yang mewariskan perintah ibadah sholat lima waktu baru saja berlalu, Sedangkan Sya’ban yang merupakan salah satu dari bulan mulia sudah datang menghampiri, dan sebentar lagi umat Muslim disambut oleh bulan Romadhon yang suci.
Mengenai hubungan dari ketiga bulan mulia yang saling berurutan ini sebagian Ulama ada yang mengatakan bahwa bulan Rajab adalah bulan yang memberikan peluang untuk membersihkan badan/jasmani, di bulan Sya’ban memberikan kesempatan untuk membersihkan hati sedangkan bulan Romadhon adalah bulan untuk membersihkan ruh/rohani.
Sedangkan para Ahli Hukama ada sebagian yang berpendapat sehubungan dengan hal-hal yang harus dilakukan bagi seorang Muslim tatkala menghadapi ke-tiga bulan mulia tersebut, mereka mengatakan bahwa sesungguhnya pada bulan Rajab adalah bulan untuk beristighfar (mengharap ampunan) dari dosa-dosa yang
Bulan Rajab dengan segala kenangan peristiwa Isro’ Mi’roj-nya yang mewariskan perintah ibadah sholat lima waktu baru saja berlalu, Sedangkan Sya’ban yang merupakan salah satu dari bulan mulia sudah datang menghampiri, dan sebentar lagi umat Muslim disambut oleh bulan Romadhon yang suci.
Mengenai hubungan dari ketiga bulan mulia yang saling berurutan ini sebagian Ulama ada yang mengatakan bahwa bulan Rajab adalah bulan yang memberikan peluang untuk membersihkan badan/jasmani, di bulan Sya’ban memberikan kesempatan untuk membersihkan hati sedangkan bulan Romadhon adalah bulan untuk membersihkan ruh/rohani.
Sedangkan para Ahli Hukama ada sebagian yang berpendapat sehubungan dengan hal-hal yang harus dilakukan bagi seorang Muslim tatkala menghadapi ke-tiga bulan mulia tersebut, mereka mengatakan bahwa sesungguhnya pada bulan Rajab adalah bulan untuk beristighfar (mengharap ampunan) dari dosa-dosa yang
para hamba, dan huruf ketiga adalah Ba ( ) merupakan akronim “Birrallahi ta’ala” yang berarti kebagusan dari Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala. Jadi di bulan Rajab tersebut Allah Azza Wa Jalla hendak berfirman “Wahai hamba-hambaku, kujadikan dosa dan kesalahan atas kalian sebagai kebagusan dan rahmat. Sehingga diantara kalian sudah tak ada dosa dan kesalahan sebab menghormati bulan Rajab”(sebagaimana disebutkan dalam “Majalisul Abror” dalam kitab Durrotun-Nasihin, Majlis ke - 11)
Hadits yang menyebutkan tentang keistimewaan bulan Rajab juga banyak kita jumpai dalam kitab Durrotun Nasihin pada majlis ke-11 dan 25, diantaranya adalah hadits yang menerangkan tentang keutamaannya dalam “menghidupkan” malam di bulan Rajab:
“Barang siapa yang menghidupkan satu malam pada bulan Rajab maka hatinya tidak akan mati tatkala matinya hati-hati para manusia dan Allah menganugerahkan kepadanya kebagusan dari arah atas kepala dan mengeluarkan dosa-dosa didalam dirinya seperti tatkala ia dilahirkan dari rahim ibunya dan ia bisa memberi syafaat terhadap 70.000 orang yang ahli berbuat kesalahan yang menjadi ahli neraka”
Hadits senada yang menyebutkan tentang keutamaan melaksanakan sholat sunnah dalam bulan Rajab juga bisa dijumpai dalam hadits yang diriwayatkan dari sohabat Annas bin Malik, nsya-Allah kurang lebih artinya :
“Dari sahabat Annas bin Malik yang menyebutkan bahwa barang siapa yang melakukan shalat sunnah sebanyak 20 rakaat dengan 10 salam dan setiap rakaat membaca Al Fatihah dan surat Al-Ikhlas yang dilakukan sesudah shalat maghrib didalam bulan Rajab maka
Allah akan menjaga dirinya dan juga keluarganya dari malapetaka dunia dan siksa di akherat.”
Salah satu yang menyebabkan mengapa bulan Rajab disebut sebagai bulan mulia salah satunya juga dikarenakan Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala pada bulan tersebut memperjalankan kekasih-Nya yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita kenal dengan peristiwa Isra’ Mi’raj , beliau membawa tugas untuk melaksanakan dan menyampaikan perintah sholat lima waktu dalam sehari semalam.
Keistimewaan Bulan Sya’ban
Dalam “Roudhotul ‘Ulama” , Rosulullah SAW bersabda : “Kemuliaan bulan Sya’ban dari bulan-bulan yang lain bagaikan kemuliaanku dari para Nabi lainnya, sedangkan kemuliaan bulan Ramadahn dari bulan-bulan lain seperti kemuliaan Allah Azza Wa Jalla bagi hambanya.”
Yahya bin Mu’adz berkata bahwasannya dalam kata “Sya’ban” terdapat 5 huruf yang setiap hurufnya mengandung ‘athiyah bagi tiap-tiap Muslim, yaitu huruf Syin (”) yang berarti Syarif dan Syafa’at / Mulia dan
Syafa’at, kemudian huruf ‘Ain ( Ê) yang berarti ‘Izza dan ‘ulya/ pangkat dan kemuliaan, kemudian ada huruf Ba’ (l) yang mengisyaratkan Birru/kebagusan, kemudian huruf Alif (a) yang berarti Ulfah, yang terakhir adalah huruf Nun (æ) yang bermakana Nur/cahaya.
Mendengar istilah “puasa”, asosiasi seorang Muslim mungkin tergiring oleh belenggu penyempitan makna, sehingga seringkali
Maka dari satu bagian tersebut menjadikan “ para makhluq mempunyai sifat saling mengasihi, sehingga induk binatang-pun mengangkat kakinya karena khawatir bisa mengakibatkan anaknya terinjak.”
diidentikkan sebagai ibadah puasa Romadhon saja. Bulan suci penuh maghfiroh itu memang memberi kesempatan seorang hamba dalam mengejar ridho-Nya dengan mengerjakan ibadah puasa, namun tidakkah dalam merangkai pahala masih banyak ibadah sunnah lainnya, dan berpuasa di bulan Sya’ban mungkin adalah salah satunya.
Disebutkan dalam “Zubdatul Wa’idhin” bahwasannya Rosulullah SAW bersabda :
“Barang siapa berpuasa tiga hari di awal bulan Sya’ban, tiga hari di tengahnya, dan tiga hari di akhir bulan Sya’ban, maka Allah Azza Wa Jalla mencatat amalnya sebagaimana pahalanya 70 para Nabi, juga tercatat pahalanya sebagaimana pahala seseorang yang beribadah pada Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala selama 70 tahun. Jika dirinya mati di tahun itu, pahalanya tercatat sebagai syuhada’ (orang yang mati syahid).”
Para Tabi’in di negara Syam, seperti Kholid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amr, Ibrohim Rahimahullahu semuanya mengagungkan dan memuliakan bulan Sya’ban khususnya
nisfu Sya’ban dengan cara bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Di dalam kitab “Thoriqotul Mahmudiyah” dikatakan bahwa Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari sohabat Abu Hurairoh :“Rosulullah SAW bersabda : Gusti Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala menjadikan sifat Rahmat menjadi 100 juz (bagian) yang 99 ditahan, sedangkan yang diturunkan ke dunia hanyalah satu bagian saja. Maka dari satu bagian tersebut menjadikan para makhluq mempunyai sifat saling mengasihi, sehingga induk binatang-pun mengangkat kakinya karena khawatir bisa mengakibatkan anaknya terinjak.”
Dalam hal memuliakan Nisfu
Sya’ban yaitu pertengahan bulan Sya’ban dengan menambah amalan dan ibadah sunnah yang dianjurkan, secara panjang lebar disebutkan dalam “Zubdatul Wa’idhin”, bahwasannya sohabat Abu Hurairah berkata :
Rosulullah SAW bersabda : “Pada malam nisfu Sya’ban, Malaikat Jibril as mendatangiku dan berkata “Ya Rosulullah SAW, malam ini pintu-pintu langit dan pintu-pintu Rahmat sudah terbuka, anda kami persilahkan bangun dan melaksanakan sholat setelah itu angkatlah kepala dan tangan ke langit dengan maksud berdo’a”
Kemudian saya bertanya, “Ya Jibril, malam apakah ini ?” kemudian Jibril as. Menjawab, “Di malam ini telah terbuka 300 pintu Rahmat, kemudian Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala memberikan ampunan pada semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan apapun. Dan yang tak diberi
ampunan yaitu : (1) Ahli Sihir; (2) Ahli Ramal; (3) Syak prasangka/keraguan (atas ketauhidan Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala); (4) Melanggenggakan minum Khamr; (5) Orang terus berzina; (6) Orang yang ahli makan riba; (7) orang yang menyakiti hati kedua orang tuanya; (8) orang yang suka mengadu; (9) orang yang memutuskan hubungan saudara. Sesungguhnya Orang-orang tersebut Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala takkan memberi ampunan hingga orang tersesebut bertaubat dan meninggalkan perbuatan perbuatan itu tadi”
Rosulullah SAW sesudah itu keluar rumah dan mengerjakan sholat dengan mengejar Ridho-Nya dan berdo’a :
“Duh Gusti, sessungguhnya saya meminta pemeliharan-Mu dari siksa dan amarah-Mu. Puji-pujianku untuk_mu tiada terhitung sebagaimana puji-pujian-Mu untuk dzat-Mu. Dan segal puji untuk-Mu hingga engkau ridho” .
Fadhilah Bulan Rhomadon
Tentang kefadhilahan bulan suci Romadhon yang penuh Rahmah dan Maghfiroh ini tentunya umat Muslim sudah banyak yang mengetahui. Walaupun secara tradisi umat Islam Indonesia selalu menyambutnya dengan penuh kegembiraan, namun tidak banyak juga yang mengetahui keutamaannya. Dari Nabi Rosulullah SAW, beliau bersabda yang insya-Allah kurang lebih artinya :
“ Barang siapa yang menyambut gembira dengan kedatangan bulan Romadhon, maka Allah Azza Wa Jalla mengharamkan tubuhnya atas neraka.”
Kefadhilahan bulan Romadhon sudah seringkali akrab oleh
ingatan kita, karena setiap bulan Romadhon Abah seringkali menerangkan kembali keutamaan-keutamaan bulan Romadhon dari terbelenggunya syaitan-syaitan la’natullah, kefadhilahan sholat tarawih hingga kemulian malam lailatul qodar (malam seribu bulan) yang merupakan malam yang dinanti-nantikan.
Keutamaan-keutamaan dalam me-laksanakan sholat tarawih yang setiap malamnya memiliki keutamaannya sendiri-sendiri dan tentang malam seribu bulan dengan segala ciri fisik maupun bacaan yang pernah ditanyakan Sayyidatina Aisyah RA. kepada Rosulullah SAW insya-Allah bukanlah pada saatnya untuk diuraikan pada bahasan sederhana ini.
Imam Bukhori dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang insya-Allah berarti : Dari Sayyidatina Aisyah RA
ia berkata : “Rosulullah SAW SAW jika telah memasuki hari sepuluh yakni hari sepuluh yang akhir dari bulan Romadhon, beliau mengikat erat sarungnya, meng”hidup”kan malamnya dan membangunkan ahli bait (keluarga)nya “ (HR. Mutafaq).
Berpijak dari hadits tersebut dan hadits-hadits lain yang senada, ibadah I’tikaf yakni berdiam di masjid dengan maksud bertaqorub dan mohon ampun pada Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala sangat dianjurkan. Banyak masyarakat Muslim sekarang yang beranggapan bahwa I’tikaf adalah ibadah yang berat dan hanya bisa dilakukan tatkala bulan Ramadhan saja. Dengan alasan yang dibuat-buat yang mudah sekali untuk dipatahkan, banyak yang beralasan dengan dalih terlalu menyita waktu. Padahal berdasarkan dari sebuah hadits tersebut di atas, Abah pernah berfatwa bahwasannya sudah dinamakan I’tikaf jika kita hanya berdiam sebentar di dalam Masjid , misalkaan kita duduk menunggun antara dua sholat wajib atau sambil menunggu adzan lalu kita niatkan untuk beri’tikaf dengan lafadz “ Nawaitu I’tikafa Fii Haadza al Masjidi Lillahi Ta’ala ” dilanjutkan melakukan
dzikir atau membaca Al-Qur’an Al-Karim.
Selain ibadah-ibadah sunnah yang sangat agung fadhilahnya dan berlipat-lipat pahala yang bisa digapai, ada juga kewajiban zakat fitrah yang harus dilaksanakan. Melalui zakat fitrah, kemungkinan adanya kesenjangan sosial dapat dilumpuhkan. Kalau boleh dibilang, Islam adalah agama yang paling rasional karena selain mengatur hubungan seorang makhluq dengan Sang Pencipta, juga mengatur hubungan dengan sesama. Malah disebutkan pula bahwasannya “puasa” seseorang akan tergantung di antara langit dan bumi hingga ia menunaikan zakatnya.
Demikianlah uraian sederhana tentang keutamaan masing-masing bulan yang saling berurutan, yakni Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Semoga dapat menambah motifasi diri - dalam usaha mendekatkan diri pada Ilahi - yang memang perlu diperbarui. (_@ssamaranji). Sumber : Majlis Durrotu An-Nasihin.
Ibu ku,
Madrasah Pertamaku
Dra. Evi W Soenyoto., Psi.
“Alangkah baiknya wanita menuntut ilmu setinggi mungkin, bukan untuk berkarir di luar rumah, tetapi untuk menjadi “dosen” bagi putra-putrinya”
(Abah Syeikh,
Majelis Jum’at siang tanggal 24 Desember 2004)
Madrasah
Ketika kita berbicara madrasah, maka yang tergambar pada benak kita adalah lembaga pendidikan yang berbasis agama Islam, dimana pada lembaga tersebut peserta didik menimba ilmu, ajaran, norma, aturan dan sebagainya dengan tujuan agar peserta didik (murid) menjadi seseorang yang berakhlakul karimah; tapi “madrasah” disini adalah istilah yang dipinjam sebagai penggambaran wadah bagi seorang ibu untuk mendidik putra-putrinya, tentu dengan tujuan yang sama.
“Madrasah” dalam keluarga, yang notabene dilakukan oleh ibu, lebih awal dilakukan dibanding di luar keluarga (sekolah). Sekolah atau madrasah yang kita kenal bersama selama ini, akan dimasuki anak ketika
Madrasah
Ketika kita berbicara madrasah, maka yang tergambar pada benak kita adalah lembaga pendidikan yang berbasis agama Islam, dimana pada lembaga tersebut peserta didik menimba ilmu, ajaran, norma, aturan dan sebagainya dengan tujuan agar peserta didik (murid) menjadi seseorang yang berakhlakul karimah; tapi “madrasah” disini adalah istilah yang dipinjam sebagai penggambaran wadah bagi seorang ibu untuk mendidik putra-putrinya, tentu dengan tujuan yang sama.
“Madrasah” dalam keluarga, yang notabene dilakukan oleh ibu, lebih awal dilakukan dibanding di luar keluarga (sekolah). Sekolah atau madrasah yang kita kenal bersama selama ini, akan dimasuki anak ketika mereka mulai siap untuk bersosialisasi lebih luas, atau ketika anak mulai menginjak usia sekolah (sekitar usia 7;0 tahun).
Ketika janin mulai ada dalam kandungan ibu sampai lahir di dunia, dan ketika anak belum memasuki usia sekolah atau siap bersosialisasi dengan dunia luar, maka “lembaga pendidikan” nya berada di rumah yakni bersama ibu. Sehingga tidaklah salah apabila ada ungkapan :”Ibu adalah sekolahan bagi generasi, apabila dipersiapkan“. Seorang pujangga Arab (Ahmad Syauqi) melalui syairnya mengungkapkan :
“Ibu adalah sekolah, apabila dia mempersiapkannya.
Dia menyiapkan masyarakat yang baik keturunannya.
Bagiku, pendidikan tertumpu di tangan para wanita.
Karena dia usir kerusakan dengan cahaya terangnya
(Adil Fathi Abdullah., Menjadi Ibu Ideal., Pustaka Al-Kautsar., 2003)
Tersirat disini, wanita (ibu) memiliki “cahaya” bagi putra-putrinya. Ketika cahaya itu terang, maka seorang ibu dapat menanamkan nilai-nilai mulia dalam diri anak, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, tapi sebaliknya ketika cahaya itu redup atau padam, maka ibu dapat menjadikan putra-putrinya menjadi sosok yang bertolak belakang dengan yang diharapkan.
“Anak yatim-piatu, bukan hanya yang mati dua orang tuanya, hingga mereka hidup sengsara lagi menderita.
Anak yatim-piatu adalah juga
yang ditelantarkan ibunya, sementara sang ayah sibuk dengan dunianya.”
Mengapa Ibu ?
Setiap manusia yang terlahir di dunia, pasti mempunyai ibu yang telah mengandung (umumnya) selama 9 bulan 10 hari. Ikatan ibu dengan anak amatlah kuat, dikarenakan adanya ikatan rahim. Sesungguhnya seorang ibu memiliki kedudukan yang sangat mulia dan pengaruh yang sangat besar, dan tidak hanya dirasakan oleh satu orang saja, tetapi kemuliaan dan pengaruhnya yang besar itu turut dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat yang ada.
Ibu merupakan sosok pendidik yang utama bagi setiap anak, menjadi sosok panutan serta pribadi ideal yang didapati setiap anak pada saat pertama kali mata terbuka untuk melihat dunia. Peranan ibu tidak terbatas pada pemberian bekal jasmani atau fisik saja, tetapi juga bagi perkembangan rohani dan pemberian kasih sayang. Karena besarnya tanggungjawab dalam pendidikan anak ini maka harus disikapi dengan cerdas oleh ibu
Ibu Yang Cerdas
Ibu yang cerdas, bukan hanya
monopoli ibu yang bergelar kesarjanaan belaka, tetapi lebih pada seberapa jauh ibu ini mengerti atau memahami kebutuhan putra-putrinya sesuai taraf tumbuh kembangnya dan mengetahui cara pemenuhannya. Tidak dapat dipungkiri, memang pendidikan tinggi seorang ibu dapat memberikan sumbangan tentang cara yang baik mendidik putra-putrinya. Tetapi sumbangan terbesar justru diberikan oleh rasa ikhlas, perhatian serta kesabaran dalam mendampingi setiap tahap tumbuh kembang putra-putrinya.
Pengaruh “Fase Tumbuh Kembang” Terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
Secara garis besar fase tumbuh kembang anak terbagi 3 (tiga) bagian, yaitu :
Fase ketika berada dalam kandungan atau masa prenatal
Dari berbagai penelitian empiris, diketahui bahwa banyak kejadian pada saat prenatal ini yang mempunyai pengaruh pada tumbuh kembang anak dikemudian hari. Kebiasaan ibu yang negatif, (misalnya alkoholik, ketergantungan obat, narkoba), juga ketidak disiplinan atau ketidak teraturan pola hidup, dan kondisi psikologis yang labil
(misalnya traumatik, depresi, stress yang berkepanjangan) akan mempunyai dampak yang buruk bagi proses tumbuh kembang anak, seperti misalnya anak tuna grahita (cacat mental), cacat fisik, hiperaktif, IQ yang rendah, emosi yang labil.
Sangatlah baik jika pada fase ini, ibu dalam keadaan jasmani dan rohani yang stabil, sehingga memungkinkan membawa dampak yang positif bagi proses tumbuh kembang anak dikemudian hari.
Fase ketika telah terlahir di dunia atau masa perenatal
Kesiapan ibu menghadapi kelahiran anak, juga mempunyai pengaruh bagi anak dikemudian hari. Sangatlah baik jika proses kelahiran dilakukan secara alami, yang tentunya harus didahului dengan kesiapan ibu secara fisik dan mental menghadapinya.
Masa ini sering juga disebut sebagai masa keemasan atau gold period. Pengetahuan tentang masa peka tumbuh kembang anak sangatlah penting, karena pada masa ini terdapat satu atau lebih aspek tumbuh kembang anak, yang apabila distimulus (dirangsang) dengan baik akan berkembang dengan sangat bagus. Misalnya :
Ketidak tahuan tentang masa peka, akan berakibat misalnya pada terganggunya proses sosialisasi anak (sulit bergaul, anti sosial), terhambatnya perkembangan psikologis, berkurangnya fungsi atau kerusakan otot dan tulang
Ibuku, Madrasah Pertamaku.
Ilmu merupakan ciri dari kemajuan dan ketinggian sebuah masyarakat atau bangsa, dan Islam memberikan pesan kepada kita semua untuk senantiasa menuntut ilmu. Sebuah ungkapan juga mengatakan :
“Ilmu dapat membangun rumah-rumah yang tak berpondasi; dan kebodohan menghancurkan bangunan yang kokoh sekalipun”.
Untuk mencetak generasi penerus yang berilmu dan berakhlakul karimah, ibu sebagai pendidik awal sangatlah berperan. Ibu sebagai orang terdekat anak mempunyai pengaruh yang besar dalam “memasukkan” aqidah, nilai-nilai moral, ilmu yang berkaitan dengan seluk beluk kehidupan, bahkan sampai dengan sopan santun, tutur bahasa yang dimiliki anak tidak lepas dari ajaran-ajaran orang terdekat, seperti ibu. Bukankah pelajaran yang paling mudah melekat, itu datangnya dari orang yang terdekat, orang yang disayangi, dicintai termasuk juga orangtua.
Alangkah bahagianya anak, sebagai generasi penerus Islam bila berkesempatan ditempa sedari awal dalam “madrasah”, dimana ibu sebagai pendidik, mempunyai wawasan luas, penyabar, ikhlas, dapat dijadikan teladan, yang tetap mempunyai sikap tegas dalam kelembutannya, selalu menyediakan jawaban yang baik dan benar, bagi setiap pertanyaan anak. Bukankah generasi penerus, adalah cermin diri kita ??? .
Seperti yang Abah ngendika :“Yen kowe pengin ngerti awakmu, dhelengen anakmu. Ya kuwi sejatine gambaranmu”
(*** Mjd Crew’s).
MENGGAPAI BERKAH ILAHI
Banyak sekali varian tafsir tentang barokah. Dan ‘barokah’ sendiri membebaskan dirinya untuk dimaknai sesuka hati oleh orang yang merasa memahaminya. Tanpa paksaan. Entah itu penafsiran sederhana sampai yang rumit (shopisticated) sekalipun, semuanya tetap bermuara pada tempat yang sama, yaitu selalu diburu dan dicari-cari. Tidak hanya oleh kalangan santri saja, kalangan abangan dan kejawen maupun umum, semuanya meskipun mempunyai kerangka pemahaman sendiri-sendiri, tetap saja yang namanya barokah dimanapun itu, suka atau tidak, selalu menjadi target antrian.
Sebenarnya, apa hakikat dari berkah (barokah) itu sendiri ? Dalam lingkungan Pondok Pesantren Salaf, berkah mempunyai makna sangat penting, serta mempunyai kedudukan utama dalam orientasi pencarian ilmu. Pada proses mengaji, seorang santri dituntut harus terlatih peka dan jeli dalam mengamalkan ilmu yang telah diserapnya dari Guru. Hal-hal kecil yang berpeluang menyebabkan munculnya godaan-godaan hati harus cepat-cepat direduksi. Dan ini sungguh tidak mudah, karena melibatkan latihan gemblengan jiwa, rohani dan terutama hati secara kontinu. Disinilah peran Guru sebagai Abu Ruh amat tinggi.
Dalam proses mengaji seorang santri harus menghindari hal-hal yang berkaitan dengan perkara-perkara syubhat, makruh, haram dan maksiat. Karena perkara tersebut dapat menambah hijab yang akan menghalangi masuknya cahaya ilmu dalam hati. Dan proses gemblengan ini tidak berjalan dalam kurun waktu singkat. Bertahun-tahun, bahkan seumur hidup. Dari sinilah muncul jargon, mengaji di pesantren salaf itu sebagai proses Long-life Education. Dan ini menjadi konsep dasar mencari ilmu yang harus dihayati oleh setiap santri. Karena disamping akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, juga mendidik jiwa berakhlaqul karimah serta bertambahnya kebaikan. Insya Allah, setelah semua itu berurutan didapat, barulah berkah mengiringi setiap aspek pola kehidupannya sehari-hari. Ziyadatul Khoir, bertambahnya kebaikan. Kebaikan untuk dirinya maupun orang lain. Inilah pemahaman berkah yang sesungguhnya.
Pengirim Naskah :
Sohibul Bait Al-Mudatsir
SAATNYA BERBAHAGIA
éj㇠åß â†ÔMm bß éÛ†ÐË bi bŽnyaë bã b¹ g æbšß‰ âb• åß
Diriwayatkan dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW, bahwasanya beliau bersabda, ‘Barangsiapa berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah SWT akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.’ (diambil dari kitab Durrotun Nasihin, hal. 7, Bab Fadhilah Bulan Ramadhan). Ada apa sih dengan Romadhon ? Mengapa sampai-sampai orang yang hanya berbahagia saja dengan kedatangan bulan Romadhon diharamkan jasadnya masuk neraka ? Begitu mulianya bulan ramadhan, bulan yang penuh rahmah, kasih sayang yang Allah Ta’ala berikan pada kita umat Rasulullah SAW, saatnya panen besar, merampok pahala sebanyak-bayaknya lalu bagaimana cara kita menyambutnya ? Menurut kebiasaan kami, santri Az-Zuhri penyambutan dilakukan dengan kegiatan bersih-bersih atau kerja bakti gota’an dan lingkungan sekitar pondok. Semua bersih dan diperbaharui dengan pengecatan pondok (program rutin). Seluruh santri dianjurkan pula untuk membeli baju baru, kerudung baru, sarung baru, mukena baru, dll. Menjelang Romadhon (kalau mampu) bukan seperti kebiasaan orang-orang di luar pondok yag membeli baju baru menjelang Idul Fitri. Hal tersebut tidak ada keutamaannya, sebab menurut guru kami (Abah Syeikh) membeli baju baru menjelang Romadhon berarti kita ikut serta berbahagia dengan datangnya bulan Romadhon tersebut. Dengan harapan kita bisa masuk golongan orang-orang yang dinash-kan hadits diatas. Selain hal tersebu diatas, supaya kita termasuk orang-orang yang berbahagia, ada beberapa hal lagi yang bisa kita lakukan. Kita benahi diri kita dan mensucikan jiwa, dari segala kotoran dan penyakitnya. Yang pertama, kita perbaharui ke-islaman kita dengan mengucapkan dua kalimat syahadat yang disyahidkan pada orang yan berhak (Al-Ulama).
Dan bertaubat kepada Allah Ta’ala. Kegiatan itu bisa dilakukan dengan silaturahmi ke tempat orang ‘Alim yang terdekat dengan kita yang mumpuni. Selain di tajdid keislaman kita di ndaleme poro kyai kita bisa diberi wejangan untuk bekal menghadapi bulan Romadhon ini, dan juga dapat do’a restu yang akan memberkati perjalanan kita merampok pahala bulan suci itu. Ada sebuah hadits riwayat Imam Dailamy dari sahabat Annas RA : ‘Orang yang berziarah kepada saudaranya yang muslim pahalanya lebih besar dari pada orang yang diziarahi.’ (Hadits Nabawi).
Yang Kedua, berbuat baik terhadap orang tua.Maka dari itu kita sebagai anak harus senantiasa berbakti kepada kedua orang tua kita agar tidak mendapat murka dari Allah. Jika kedua orangtua kita telah meninggal, maka ziarahilah kubur mereka, doaka dengan sepenih hati, mintakan ampunan dan keringanan siksa kubur. Berkunjunglah ke rumah rang tua kita di kampung halaman. Datang dengan seluruh keluarga, membawa hadiah kalau bisa dan yang terpenting minta maaf pada bapak ibu kita dan mengharap ridhonya, karena dalam sebuah hadits Imam Tirmidzi dan Al-Hakim dari sahabat Ibnu ‘Amr yang artinya kirang lebih : “Keridhoan Allah itu ada pada keridhoan orang tua dan murka Allah itu ada pada kemurkaan orang tua.”
Dengan ziarah kubur dapat men ingkatkan keimanan kita dan ini bentuk bakti kita pada kedua orang tua. Sebuah hadits riwayat Ibnu Majah dari Abi Hurairah menyebutkan : Yang ketiga, maaf pada saudara-saudara kita sesama muslim, menyambung kembali silaturahmi yang telah terputus dan selalu menebar salam dan senyum pada semua orang. Dalam keseharian kita banyak melakukan kesalahan bahkan sampai menyakiti saudara-saudara kita sesama muslim baik itu disengaja maupun tidak. Entah dengan lisan, seperti gibah, namimah, mencela, mengumpat, dsb. Atau dengan perbuatan kita yang selalu inginkan kerusakan dan kejelekan pada saudara-saudara kita. Uangkapkanlah dengan tulus permohonan maaf kita pada mereka, sebut kesalahan kita, kalau bisa beri hadiah agar saudara kita bisa berkenan memaafkan kita. Dengan penuh harap setelah kita mempersiapkan kedatangan bulan Romadhon dengan beberapa langkah-langkah diatas, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang berbahagia. Amien. (Mjd-26)
Oleh :
Yu Itsnaini & Yu Ningrum
Kenangan
BULAN RAJAB
Oleh : Isnaini
Didalam Al-Quran surat At-Taubah ayat 36, Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala menerangkan tentang pembagian bulan didalam setahun. Didalam setahun oleh Allah Azza Wa di bagi menjadi 12 bulan, pembagian ini sudah ada sebelum Allah Azza Wa Jalla menciptakan langit dan bumi.
Kemudian dalam peerkembangannya manusia juga menemukan 12 bulan juga, jadi salah anggapan orang jika Agama Islam dalam membuat penanggalan dikatakan meniru/mencontek penanggalan masehi.
Mengapa Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala membagi waktu.
Waktu pada dasarnya meliputi pagi, siang dan malam, tapi perlu diingat bahwa pagi yang sekarang dengan besuk atau lusa tentu berbeda, oleh adanya perbedaan itu manusia yang oleh Allah Azza Wa Jalla diberi akal fikiran dituntut untuk mencari apa sebenarnya maksud Allah Azza Wa Jalla membagi waktu tersebut.
Didalam pembagian waktu tersebut salah satu maksudnya adalah manusia dituntut untuk dapat menghitung itulah sebabnya mengapa di madrasah-madrasah, dipondok-pondok pesantren di ajarkan ilmu hisab (ilmu hitung).Ilmu hisab mengajarkan para murid untuk bisa melakukan hal-hal yang berhubungan dengan masalah hitung-menghitung.
Disamping manusia dituntut untuk dapat menghitung salah satu hal yang menjadi alasan mengapa Allah Azza Wa Jalla membagi waktu adalah supaya manusia dapat melakukan
ihtisab dosa-dosa yang telah dilakukan pada waktu kemarin karena dengan kita banyak melakukan ihtisab terhadap dosa-dosa kita maka akan dapat memperdekat hubungan kita dengan Allah Azza Wa Jalla dengan cara taubat dengan sesungguh-sungguhnya.
Keistimewaan Bulan Rajab
Kita telah memasuki bulan Rajab, salah satu bulan dari 12 bulan yang termasuk dimuliakan oleh Allah Azza Wa Jalla.Bulan yang dimuliakan oleh Allah Azza Wa Jalla ada 4 bulan yang tiga diantaranya adalah berurutan yaitu: Bulan Dzul Qo’idah, Dzul Hijjah, Muharom dan bulan yang satu adalah bulan Rajab.Sekarang kita telah memasuki bulan rojab yang akhir.
Ada banyak hadits yang menyebutkan tentang keistimewaan bulan Rajab diantaranya adalah:
“Barang siapa yang menghidupkan satu malam pada bulan rajab maka hatinya tidak akan mati tatkala matinya hati-hati para manusia dan Allah Azza Wa Jalla menganugerahkan kepadanya kebagusan dari arah atas kepala dan mengeluarkan dosa-dosa didalam dirinya seperti tatkala ia dilahirkan dari rahim ibunya dan ia bisa memberi syafaat terhadap 70.000 orang yang ahli berbuat kesalahan yang menjadi ahli neraka”
Ada hadits lain yang menyebutkan :
“Dari sahabat Annas bin Malik yang menyebutkan bahwa barang siapa yang melakukan shalat sunnah sebanyak 20 rakaat dengan 10 salam dan setiap rakaat membaca Al Fatihah dan surat Al-Ikhlas yang dilakukan sesudah shalat maghrib didalam bulan Rajab maka Allah Azza Wa Jalla akan menjaga dirinya dan juga keluarganya dari malapetaka dunia dan siksa di akherat.”
Ada juga amalan puasa yang pahalanya jika dilakukan sangat besar sekali yaitu:
Orang yang berpuasa satu hari saja ia akan mendapatkan keridhoan Allah Azza Wa Jalla yang sangat besar.
Orang yang berpuasa dua hari ia akan mendapatkan kemulyaan yang besar disisi Allah Azza Wa Jalla dibandingkan dengan ahli langit dan bumi yang lain
Orang yang puasa tiga hari ia akan terhindar dari bencana dunia dan siksa akherat seperti penyakit gila, jundam, baros dan dari fitnah Dajjal La’natullah.
Orang yang puasa tujuh hari dia akan terhindar dari tujuh buah pintu neraka artinya dia akan selamat dari neraka
Sedangkan orang yang berpuasa 15 hari maka Allah Azza Wa Jalla akan memberi ampunan dosa yang ia lakukan sebelum dan sesudahnya dan Allah Azza Wa Jalla melipat gandakan pahalanya.
Perlu juga diketahui bahwa pada bulan Rajab Allah Azza Wa Jalla memperjalankan Nabi Muhammad SAW yang kita kenal dengan peristiwa Isra’ Mi’raj yang membawa tugas perintah sholat lima waktu dalam sehari semalam.
Peristiwa isro’mi’roj terjadi ketika Nabi sedang memikirkan kekejaman kaumnya beban berat yang di pikulnya.setiap saat Nabi berjuang menghadapi tantangan dari kaumnya,untuk menghibur Nabi malaikat jibril diutus oleh Allah Azza Wa Jalla untuk dijemput dimasjidil haram dan dibawa kemasjidil aqso di palestina.kemudian beliau di naikkan kelangit sampai sidrotul muntaha. Perjalanan Nabi dimalam hari ini tak lain adalah untuk menunjukkan kekuasaan Allah Azza Wa Jalla kepada beliau disamping untuk menghibur hati beliau yang sedang di rundung malang.
Selayang Pandang Isra’ Mi’raj
Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah suatu peristiwa yang luar biasa. Bukan hanya sekedar perjalanan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dengan melihat-lihat alam semesta raya saja.Namun perjalanan ghaib ini mengandung arti besar sekali bagi kita untuk dapat melihat kekuasaan Allah Azza Wa Jalla sang pencipta alam semesta serta isinya. Karena itulah diabadikan Allah Azza Wa Jalla perjalanan Isra’ Mi’raj tersebut dalam surat Al Isra dan An Najm.
Perjalanan Isra’ Mi’raj itu merupakan pertanda bahwa risalah Islamiyah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW bukanlah hanya untuk bangsa Arab saja. Namun risalah Islamiyah tersebut umum buat seluruh umat manusia.
Perjalanan Isra’ Mi’raj tersebut juga menjadi pertanda betapa pentingnya tempat-tempat yang dikunjungi oleh Nabi Muhammad SAW bagi sejarah umat manusia. Karena kawasan timur tengah memang sejak dulu banyak mempunyai arti penting bagi sejarah umat manusia.
Perjalanan Isra’ Mi’raj merupakan pertanda bahwa Nabi Muhammad SAW bukanlah seorang pemimpin yang hanya memperjuangkan segolongan umat manusia saja. Namun beliau diutus untuk membawa risalah perbaikan bagi seluruh umat manusia. Kalau Nabi Muhammad SAW hanya diutus untuk membawa risalah perbaikan sekelompok manusia tertentu saja, pasti tidak perlu bagi Nabi Muhammad SAW untuk diisra’kan yang harus menempuh perjalanan yang demikian jauh. Memang Nabi Muhammad SAW tidak dapat disamakan dengan pemimpin-pemimpin lain yang pernah membuat sejarah perjuangan. Karena boleh dikatakan bahwa semua pemimpin itu hanya berjuang untuk sekelompok manusia atau buat bangsa yang berada di suatu daerah tertentu saja. Dengan ide dan tujuan tertentu pula. Namun Nabi Muhammad SAW diutus untuk memperjuangkan seluruh umat manusia dengan tujuan yang lebih luas pula. Beliau diutus bukan hanya untuk membawa misi yang menghubungkan antar manusia saja. Bahkan beliau diutus juga membawa misi yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. (_@ssamaranji).
Sumber : Majlis Durotun Nasihin
Fi Majlis 11 dan 25
Wacana Ilmiah
Isra’ Mi’raj
Ilmu pengetahuan zaman kita sekarang ini membenarkan pula teori telepati serta pengetahuan lainnya yang bersangkutan dengan itu. Demikian juga dengan transmisi suara di atas gelombang ether dengan radio, telefotografi (facsimile transmisi) dan teleprinter generasi berikutnya, suatu hal yang tadinya masih dianggap suatu khayalan belaka. Energi-energi yang masih tersimpan di alam semesta ini setiap hari masih selalu memperlihatkan sesuatu hal yang baru bagi alam akal kita.
Islam sebagai salah satu agama samawi yang sempurna di dunia ini, tidak luput juga dari saputan polesan sejarah tentang kisah penaklukan angkasa, Isra’ Mi’raj. Adalah sebuah “Mahakarya’ agung dari Yang Maha Kuasa tentang perjalanan penuh hikmah seorang anak yatim lagi ‘ummi’ yang kelak akan menggoncang dunia.
Seolah-olah membangkitkan romantisme spiritual kita akan sebuah perjalanan ‘mistis’ ke dunia lain, yaitu pertemuan seorang manusia dengan Tuhannya.
Apabila jiwa sudah mencapai kekuatan dan kemampuan yang begitu tinggi sebagaimana yang sudah dicapai oleh jiwa Rosulullah SAW, sangatlah mudah bagi Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala untuk memperjalankan hambanya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, maka hal itu-pun oleh ilmu pengetahuan dapat dibenarkan. Pemahaman yang begitu kuat dan luhur, begitu indah dan agung, dan telah pula membayangkan kesatuan rohani dan kesatuan alam semesta ini begitu jelas dan tegas terpancar dalam jiwa Nabi Agung Muhammad SAW. Seorang manusia akan mudah memahami arti semua ini apabila ia dapat berusaha menempatkan diri lebih tinggi dari bayangan hidup yang singkat ini, ia berusaha mencapai esensi kebenaran tertinggi guna memahami kedudukannya yang sebenarnya dan kedudukan alam ini seluruhnya.
Belum lama berselang kita ‘kesowanan’ planet Mars yang berada di orbit terdekat dengan bumi. Ada I’tibar apa dengan fenomena alam tersebut ? Bisa jadi ini peringatan dari Allah bahwa kita (umat Muslim) sudah ketinggalan jauh sekali dalam penguasaan ilmu teknologi (antariksa). Padahal kita sudah dibekali ilmu-ilmu yang mendukung, seperti ilmu hisab dan ilmu falak. Kita sudah banyak kecolongan, demikian ngendika Abah suatu kali. Tanpa sadar sudah banyak sektor yang tercuri. Kenapa kita selalu berada pada posisi marginal dalam pengembangan iptek khususnya antariksa ? Tidak bisa tidak, penguasaan teknologi ini mutlak dipelajari oleh generasi muda Islam sekarang. (Mujaddid’s Crew).
Bagaikan Satu Tubuh
“Rosulullah SAW bersabda : seseorang belum bisa disebut orang mu’min sehingga mampu mencintai saudaranya (sesama Muslim) bagaikan mencintai diri sendiri” (HR. Anas bin Malik RA)
Sumber : Hadits ‘Arba’in, hadits ke-13 sohifah 24
Bila mampu mencintai saudara sesama Muslim, bukan tak mungkin cinta sesama secara universal mudah terwujud. Dalam peribahasa jawa sering terdengar, “Seneng ora marga pangalem, sengit ora kerono panyacat”. Mencintai bukan karena pujian, membenci bukan sebab hinaan. Mencintai kawan bukan lantas didasari persamaan tujuan, menganggap teman bukan karena keuntungan yang diberikan.
Misteri alam, setiap hari atau bahkan setiap saat mengajarkan pada manusia lewat perantara kesucian hati dan keihlasan dalam berfatwa dari para “kekasih”Nya. Analogi “bagaikan satu tubuh” bagi saudara sesama Muslim bukan berarti harus memaksakan diri mencari persamaan, karena perbedaan sendiri adalah anugrah untuk saling melengkapi dan mengisi.
Tubuh manusia terdiri dari berbagai sel, entah itu sel hidup atupun sel yang sudah mati. Dari berbagai sel tersebut terhimpunlah apa yang disebut dalam istilah biologi, jaringan. Sebuah jaringan, sebut saja jaringan otot, jaringan tulang, jaringan kulit atau jaringan-jaringan lain yang tak terlalu prinsipil untuk disebutkan disini akan membentuk sebuah organ tubuh.
Dari uraian sederhana tentang organ tubuh manusia sebagaimana tersebut di atas, kita akan mudah menarik sebuah kesimpulan bahwa dalam komposisi apapun yang membentuk tubuh manusia sudah ada “struktur organisasi” yang tersusun rapi dan sistematis sekali. Partikel-partikel yang ada dalam tubuh manusia-pun ternyata menganut faham untuk selalu hidup “berjama’ah”.
Anggap saja otak sebagai jasad/materi fisik dari sebuah akal yang bisa diibaratkan sebagai lembaga “ekskutif”nya, maka dalam melaksanakan perbuatannya sehari-hari si ekskutif harus sesuai dengan aturan “konstitusi” yang sudah ditetapkan oleh lembaga “legislatif”nya yaitu, hati/jiwa. Pada hati bersemayam beberapa khotir (bisikan), entah itu berupa khotir basyariah atau khotir uluhiyah yang memberikan wewenang pada “ekskutif” untuk menentukan kinerjanya sendiri.
Sistem sel maupun jaringan memberi gambaran pada kita untuk tidak ikut larut pada “luka” dan sekedar terhanyut dalam suasana emosi saudara seperjuangan. Karena bila ada salah satu sel dalam tubuh yang sudah mati, bukan lantas sel-sel yang lainnya ikut “mati” atau tak berfungsi.
Apapun yang menjadi beban saudara kita adalah beban kita juga, apapun yang menjadi permasalahan saudara kita adalah permasalahan kita bersama. Namun kita tak perlu hanyut dalam kesedihannya atau terlalu larut dalam problemnya, karena uluran tangan yang kita berikan belum tentu sebuah kebaikan. (_@ssamaranji).
Serpihan
Peringatan Kemerdekaan
Masihkah bergema lagu nasional tersebut, masihkah mampu meng-getarkan jiwa bangsanya, masihkah mampu membangkitkan semangat perjuangan rakyatnya, ma-sihkah tersisa kepingan-kepingan gelora nasionalisme dalam jiwa rakyat Indonesia.
Peringatan hari kemerdekaan Bangsa kita baru saja hadir, namun bukan berarti semangat perjuangan dan jiwa nasionalisme warisan para Pendahulu Bangsa menjadi sesuatu yang terlupakan dan dianggap hal baru.
Ibu pertiwi mungkin menangis melihat Sang Saka Merah Putih tersingkirkan pengaruhnya oleh bendera partai, para pahlawan kusuma bangsa mungkin kecewa melihat politisi sekarang hilang jiwa negarawannya. Reformasi hanya tinggal jargon belaka, korupsi semakin menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihilangkan dari kebiasaan masyarakatnya.
Meraih kemerdekaan adalah suatu cita-cita mulia. Kemerdekaan Indonesia digapai dengan sejuta perjuangan, pengorbanan dan secercah harapan dari para pahlawan kusuma bangsa. Cahaya harapan itu kini mulai meredup kembali, karena hembusan keserakahan, tiupan ketamakan dan lunturnya jiwa negarawan dari generasi berikutnya.
Haruskah hal itu dibiarkan terus berkembang, relakah bila perjuangan ini ternodai oleh orang-orang yang dilingkari rasa bangga diri. Bangga akan kejayaan masa silam namun melupakan perjuangan yang harusnya kini dihadapi.
Pelajaran Perang Uhud.
Peristiwa perang Uhud dijaman Rosulullah SAW dapat menjadi pelajaran bahwa sebuah perjuangan, suatu perjalanan untuk mencapai cita-cita pasti ada ujian ataupun cobaan.
Dalam perang tersebut, pasukan Muslim lebih banyak jumlahnya dari pasukan kaum musyrikin. Strategi dan medan pertempuran sangat mendukung umat Islam meraih kemenangan, karena bukit Uhud menjadi benteng alam bagi pasukan Islam. Semangat juang kaum Muslim lebih tinggi karena Rosulullah SAW memimpin langsung pertempuran.
Kemudian beliau Rosulullah SAW perintahkan agar pasukan panah tetap berada ditempat untuk melindungi pasukan Muslimin lainnya dari serangan pasukan Musyrikin. Namun sayang, hampir saja pasukan Muslimin meraih kemenangan, baru saja kaum musyrikin kocar-kacir dan berserakan, pasukan Muslimin mulai goyah imannya dengan hadirnya godaan harta rampasan di depan mata. Pasukan Muslim yang mulai teralihkan perhatiannya dengan harta rampasan mendapat serangan balasan dari pasukan musuh Islam.
Kekuatan bukan semata banyaknya pasukan, hanya moralitas dan loyalitas menjadi suatu hal yang menentukan sebuah kesuksesan dalam berjuang. Begitu juga kira-kira yang terjadi di Negeri kita tercinta. Di awal kemerdekaan Bangsa ini, jiwa dan semangat Nasionalisme dijunjung tinggi.
“Harta Rampasan”
Namun tatkala Bangsa ini mulai menapaki usia yang ke-20, manakala Bangsa ini mulai menunjukkan kedewasaan, disaat Negara ini mulai menumbuhkan “hasil” dari kemerdekaan berupa pembangunan, di saat itulah sikap negarawan para birokrat mulai diuji.
Harta rampasan berupa “pembangunan” tersebut mulai menunjukkan kemampuannya untuk menggoyahkan iman, moral serta dedikasi para pamong praja. “Pembangunan” itu mulai mampu melunturkan semangat pengabdian pada Negara, mulai berpeluang menggoyahkan keikhlasan dalam mengemban tugas Negara.
Pada tahap selanjutnya, bukan lagi tuntutan untuk mendapatkan prioritas utama pada Negara namun berkembang menjadi perampasan fasilitas Negara. Sesuatu yang mengkhawatirkan dan tidak diharapkan –pun mulai menunjukkan gejala akan mewabah, yaitu korupsi. Lebih parah dari wabah SARS, lebih gawat dari penyakit AIDS, karena korban korupsi menyangkut semua warga negara Indonesia, seluruh rakyat Indonesia. Jutaan rakyat harus menanggung akibat dari meluasnya tindakan korupsi, tidak peduli apakah rakyat sendiri juga menikmati hasil korupsi, hasil jarahan harta Negara.
Cita-cita kemerdekaan kini mulai terlupakan, pemerataan pembangunan mulai terkubur dalam-dalam oleh keserakahan, reformasi mulai dilunturkan oleh kepentingan pribadi atau golongan. Hal tersebut terjadi karena mungkin Bangsa kita mulai lupa, bahwa Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Penghargaan yang diberikan seharusnya lebih dari sekedar penghormatan secara fisik dan seremonial saja, yaitu dengan memahami dan meneladani sikap negarawannya, sikap lebih mementingkan kepentingan umum dan negara, serta semangat patriotisme yang tak luluh oleh godaan harta.
Sebagaimana peristiwa Perang Uhud di jaman Rosulullah SAW yang dikemukakan di atas, pasukan Muslim mengalami kekalahan karena mulai lupa akan perintah Rosulnya, pasukan panah mengabaikan strategi perang sang komandan karena tergiur harta rampasan perang. Gambaran itu mengajarkan bahwa perbuatan segelintir orang bisa mengacaukan segalanya, pengkhianatan sebagian kecil pasukan dapat menutup peluang kemenangan.
Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala memberikan sebuah peringatan :
“Dan sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla telah memenuhi janji-Nya kepada kamu ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya, sampai pada saat kamu lemah dan berselisih faham dalam urusan itu (yaitu urusan pelaksanaan perintah Nabi SAW untuk bertahan di tempat yang ditentukan/bukit Uhud) dan mendurhakai perintah (Nabi SAW) sesudah Allah Ta’ala memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai (kemenangan dan harta rampasan). Diantara kamu ada yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada yang menghendaki akherat. Kemudian Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah Azza Wa Jalla mempunyai karunia (yang dilmpahkan) atas orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran : 152)
Melalui tamtsil peristiwa Uhud tersebut dapat membuka kesadaran bahwasannya kekacauan di negeri ini disebabkan karena rakyat kita mulai meninggalkan figur sang pemimpin. Walaupun harus diakui bahwa rakyat “meninggalkan” pemimpin bukan karena pemberontakan, rakyat mengabaikan pimpinan bukan karena kurangnya ketaatan, hanya saja mereka menganggap bahwa pemimpin yang sudah ada bukanlah figur pemimpin ideal yang dicita-citakan. Ironisnya, mereka tidak tahu siapakah figur yang masih dalam pencarian di alam idealisme itu.
Pemimpin yang mereka dambakan bukanlah seorang pemimpin yang berorientasi mengejar kebahagiaan duniawi semata, pemimpin yang mereka impikan bukanlah orang yang menyuruh umat mencari kebahagian namun mengajak menciptakan kebahagiaan yang sebenarnya memang sudah ada. Hanya saja, perlu sudut pandang yang berbeda untuk “melihat” sebuah karunia.
Kemerdekaan ini sebuah karunia besar Illahi, kemerdekaan ini diraih dengan sejuta pengorbanan, sejuta tangisan dan tetesan darah penghabisan, yang tentunya disertai berjuta-juta harapan para pejuang pada generasi selanjutnya untuk memanfaatkan sebuah kemerdekaan. Generasi sekarang sebagai generasi penerus perjuangan Bangsa harusnya sadar betapa beratnya memikul warisan “kemerdekaan”, betapa besar dosa yang harus ditanggung bila melakukan pengkhianatan.
“Mereka” Berusaha Menjauhkan Kita Dari Ulama
Kemerdekaan Indonesia yang sudah diraih tentu menimbulkan pengaruh psikologis bagi para penjajah. Merasa bahwa penjajahan fisik yang mereka lakukan dianggap gagal, strategi “perang” yang mereka lakukan berubah menjadi penjajahan mental spiritual. Para orientalis sadar bahwa kekuatan Bangsa Indonesia terletak pada rakyatnya yang mayoritas Muslim, maka Ulama’ sebagi pemimpin umat Muslim mulai diperlemah peran dan fungsinya.
Dengan semakin banyaknya “produk” ‘Ulama yang mereka cetak memberikan dampak semakin terpecahnya kekuatan Islam, dan otoritas seorang ‘Ulama juga akan berkurang . Tentu saja “mereka” tidak mau mengambil resiko untuk terjun langsung dalam mencetak ‘Ulama, mereka hanya menggiring kita untuk membuat sebuah sistem yang pada gilirannya membuat umat atau masyarakat menjauhi ‘Ulama-nya.
“Wabah” untuk berlomba-lomba dalam membangun dan memperindah sebuah Masjid yang hanya sebatas fisik, juga patut diwaspadai sebagai langkah “mereka” untuk meyekat-nyekat umat. Bukankah dengan hadirnya masjid di setiap kampung/gang yang dianggap merupakan kemajuan Islam membuka peluang semakin lemahnya persatuan. Bukankan dengan semakin banyaknya Masjid berpotensi mengurangi nuansa ke”sakral”annya.
Kembalilah pada Ulama.
Peran Ulama dalam memberikan kontribusi untuk kemerdekaan Bangsa, untuk kemajuan Negara dan untuk pembangunan fisik serta mental masyarakatnya tidak membutuhkan sebuah pengakuan. Ulama sebagai figur sentral kalangan pesantren nyatanya berhasil mendidik dan menancapkan faham pada umatnya bahwa mencintai Negara termasuk sebagian dari keimanan, karena memang begitulah ajaran Islam.
Dan siapa lagi yang pantas menyandang gelar pemimpin bila bukan Ulama, karena merekalah pewaris para Nabi, konsep “ikhlas” dan hanya meraih “ridho”Nya terkadang membuat masyarakat menjadi melupakan akan peran mereka. Bahkan peran besar para Ulama dan kalangan Pesantren dalam sejarah perjuangan merebut
kemerdekaan Bangsa Indonesia nyaris terlupa. Dunia memang tak adil bila terus menambah tanya tentangnya.
Sudah semestinya bila dalam berjuang tidak mengharapkan namanya dikenang, tidak perlu meminta sebuah pengakuan. Begitulah kira-kira prinsip ‘Ulama Indonesia dalam mengajak umatnya merebut kemerdekaan, dan merekapun siap untuk dilupakan. Umat Islam selalu hadir bila dibutuhkan Negara, selalu siap bila Negara membutuhkan tenaga dan pikirannya, dan dengan hati terbuka siap mundur bila Bangsa sudah aman sentosa, dengan lapang dada siap dilupakan jasanya.
Sebagai rakyat Indonesia, kita tunjukkan pada leluhur bahwa Bangsa ini masih pandai bersyukur atas karunia kemerdekaan yang sulit terukur. Sebagai warga negara Indonesia, apapun profesi kita, apapun kedudukan kita, dan apapun status kita bukan menjadi penghalang untuk menunjukkan bahwa kita mampu memberikan sesuatu yang berarti bagi ibu pertiwi. Dan peristiwa Uhud tak perlu terulang kembali. (***@ssamaranji)
***) Sumber : Abah dalam Majlis Mujahadah.
Yang Dalam Lughot Arab :
Laa Gholbata illa bi al-quwwa(h)ta
Walaa Quwwata illa bi al-jama’a(h)ta
Walaa jama’ah illa bi al-imamah.)
MASJID AL-AQSHA
Ibn Khaldûn menuturkan keterangan kesejarahan yang sangat menarik tentang Bait al-Maqdis (juga disebut al-Bait al-Muqaddas, al-Quds, Yerusalem atau Ursyalîm), demikian:
Adapun Bait al-Maqdis, yaitu al-Masjid al-Aqshâ, mula-mula, di zaman kaum Shâbi’ah, adalah tempat kuil Zahrah (Dewi Venus). Kaum Shâbi’ah menggunakan minyak sebagai sajian pengorbanan yang ditumpahkan pada karang yang ada di sana. Kuil Zahrah itu kemudian hancur. Dan Bani Israil, setelah menguasai Yerusalem, menggunakan karang tersebut sebagai kiblat. Hal ini terjadi sebagai berikut: Nabi Musa as memimpin Bani Israil keluar dari Mesir, untuk memberi mereka Yerusalem yang telah dijanjikan oleh Allah kepada moyang mereka, Israil (Nabi Ya‘qûb as), dan kepada ayahnya, Nabi Ishhâq as, sebelumnya. Pada waktu mereka mengembara di gurun, Allah memerintahkan mereka membuat kubah dari kayu akasia yang ukurannya, gambarannya, efigi (haikal)-nya dan patung-patungnya ditetapkan dengan wahyu.
Dalam kubah itu ditempatkan Tabut, meja dengan piring-piringnya dan tempat api dengan lampu-lampunya dan dibuatkan pula altar tempat berkorban, yang semuanya digambarkan dengan lengkap dalam Taurat. Maka kubah itupun dibuat, dan di situ diletakkan Tabut Perjanjian (Tâbût al-‘Ahd, the Ark of Covenant), yaitu tabut yang di dalamnya terdapat lembaran batu yang dibuat sebagai ganti dari lembaran batu yang diturunkan (kepada Nabi Musa as) dengan Sepuluh Perintah (al-Kalimât al-‘Asyr, the Ten Commandments) karena telah pecah berantakan. Dan sebuah altar dibangun di sebelahnya. Allah membuat janji kepada Nabi Musa as bahwa Nabi Hârûn as adalah penaggungjawab upacara pengorbanan itu. Mereka mendirikan kubah itu di tengah perkemahan mereka di gurun, bersembahyang ke arahnya, melakukan pengorbanan pada altar di depannya, dan pergi ke sana untuk menerima wahyu. Ketika Bani Israil berhasil menguasai Syam (Syria),
mereka menempatkan kubah tersebut di Gilgal dalam kawasan Tanah Suci (al-Ardl al-Muqaddasah) antara Benjamin dan Ephraim. Kubah itu tetap berada di sana selama empat belas tahun, tujuh tahun selama perang dan tujuh tahun selama pembagian negeri. Setelah (Nabi) Yosyua (Yûsya‘, Joshua), as., meninggal, mereka pindahkan kubah itu ke Syilu dekat Gilgal, dan mereka dirikan tembok sekelilingnya. Kubah itu berdiri di sana selama tiga ratus tahun, sampai kemudian dikuasai oleh bangsa Filistin. Bangsa ini mengalahkan mereka (Bani Israil), kemudian (akhirnya) kubah itu mereka kembalikan, dan setelah matinya Eli (‘âlî) sang pendeta, dipindahkan ke Nob (Nûf). Pada masa Thâlût (Jalut) kubah itu dipindahkan ke Gibeon (Kab‘ûn) di tanah Benjamin. Setelah Nabi Dâwûd as., berkuasa, ia pindahkan kubah dan Tabut itu ke Bait al-Maqdis, lalu ia bangun kemah khusus untuknya, dan diletakkan di atas Karang (Shakhrah) di sana.
Kubah itu tetap menjadi kiblat yang diletakkan di atas Karang di Bait al-Maqdis. (Nabi) Dâwûd ingin membangun masjid di Karang itu, tertapi tidak selesai, dan diteruskan oleh puteranya
Nabi Sulaymân as, yang membangunnya pada tahun keempat dari kekuasaannya dan pada tahun lima ratus sejak wafat Nabi Mûsâ, as. Tiang-tiangnya dibuat dari perunggu, dan di dalamnya dibangun lantai dari kaca. Dinding-dinding dan pintu-pintunya dibalut dengan emas. Nabi Sulaymân juga menggunakan emas untuk memperindah efigi-efigi (hayâkil)-nya, patung-patungnya, bejana-bejananya, dan tungku-tungkunya. Kunci-kuncinya dibuat dari emas. Di tengahnya dibuat semacam galian untuk meletakkan Tabut Perjanjian, yaitu Tabut yang di dalamnya terkandung lembaran-lembaran suci (berisi Sepuluh Perintah) yang dipindahkan dari Zion tampat ayahnya (Nabi Dâwûd as) setelah diletakkan di sana untuk sementara sewaktu Masjid Aqshâ itu sedang dibangun. Suku-suku Israil dan para pendeta mereka membawa Tabut itu dan menempatkannya di dalam lubang yang disediakan.
Kubah, bejana-bejana, dan altar semuanya diletakkan dalam tempat-tempat yang telah disediakan dalam Masjid. Keadaan tetap demikian selama dikehendaki Allah.
Kelak, Masjid itu dihancurkan oleh Nebukadnezar, setelah delapan ratus tahun berdiri. Nebukadnezar membakar Taurat, tongkat (milik Nabi Mûsâ as), melelehkan efigi-efigi, dan memporak-porandakan batuan-batuannya. Kemudian para penguasa Persia mengizinkan Bani Israil kembali (ke Yerusalem). ‘Uzair (Ezra), seorang Nabi dari Bani Israil saat itu, membangun kembali Masjid Aqshâ, dengan bantuan penguasa Persia, Bahman (Artaxerxes), yang dalam kelahirannya berhutang budi kepada Bani Israil yang digiring menjadi tawanan (di Babilonia) oleh Nebukadnezar. Bahman menetapkan batasan-batasan pembangunan kembali Masjid Aqshâ dan membuatnya sebagai bangunan yang lebih kecil daripada yang ada di masa Nabi Sulaymân. Bani Israil tidak mau melanggar ketentuan itu.
Bangsa-bangsa Yunani, Persia dan Romawi silih berganti menguasai Bani Israil. Selama masa itu, wewenang memerintah yang leluasa dipunyai Bani Israil, kemudian dilakukan oleh para pendeta Yahudi, kaum Hasmonean. Kaum Hasmonean sendiri kemudian diganti oleh Herodus yang punya hubungan
perkawinan dengan mereka, kemudian diteruskan oleh anak-anak Herodus. Herodus membangun kembali Masjid Aqshâ dengan sangat megah, mengikuti rencana Nabi Sulaymân. Ia menyelesaikan pembangunan itu selama enam tahun. Kemudian Titus, salah seorang penguasa Romawi, muncul dan mengalahkan bangsa Yahudi serta menguasai negeri mereka. Titus (tahun 70 Masehi) menghancurkan Yerusalem dan Masjid Aqshâ yang ada di sana. Tempat bekas berdirinya Masjid itu ia perintahkan untuk diubah menjadi ladang.
Kemudian, bangsa Romawi memeluk agama al-Masîh, as., dan mulailah mereka mengagungkan al-Masîh itu. Para penguasa Romawi maju-mundur untuk memeluk agama al-Masîh, sampai datang masa Konstantin yang ibunya, Helena, telah memeluk agama Masehi. Helena pergi ke Yerusalem untuk menemukan kayu yang digunakan bagi penyaliban al-Masîh, menurut pendapat mereka (orang Nasrani). Para pendeta memberi tahu kepadanya bahwa salib itu telah dibuang ke dalam tanah yang penuh sampah dan kotoran.
Helena menemukan kayu salib itu, dan di tempat kotoran itu ia dirikan Gereja Kotoran (Kanîsat al-Qumâmah, konon nama ejekan untuk Kanîsat al-Qiyâmah, “Gereja Kiamat”). Gereja itu oleh kaum Masehi dianggap berdiri di atas kubur al-Masîh.
Helena menghancurkan sisa-sisa sebagian dari Masjid Aqshâ yang masih berdiri. Kemudian ia memerintahkan agar kotoran dan sampah dilemparkan ke atas Karang Suci sampai seluruhnya tertutup oleh sampah dan kotoran itu, dan letak Karang Suci menjadi tersembunyi. Helena menganggap inilah balasan yang setimpal kepada kaum Yahudi atas perbuatan mereka terhadap kubur al-Masîh.
Keadaan tetap bertahan seperti itu sampai datangnya Islam dan Khalifah ‘Umar ra datang untuk membebaskan Bait al-Maqdis dan menanyakan tempat Karang Suci itu, lalu ditunjukkan tempatnya dan ia dapatkan di atasnya tumpukan sampah dan tanah. Lalu ia bersihkan tempat itu dan ia dirikan masjid di atasnya menurut cara kaum Badui. ‘Umar mengagungkan tempat itu sejauh yang diizinkan Allah dan sesuai dengan kelebihannya sebagaimana
disebutkan dan ditetapkan dalam Induk Kitab Suci (Umm al-Kitâb, yakni, al-Qur’ân). Kemudian Khalifah al-Walîd ibn ‘Abd al-Mâlik mencurahkan perhatian untuk membangun masjidnya menurut model bangunan masjid-masjid Islam, sebagaimana dikehendaki Allah, seperti yang juga ia lakukan untuk Masjid Harâm (di Makkah) dan Masjid Nabi saw. di Madinah.
Kiranya kutipan dari keterangan Ibn Khaldûn itu membantu memberi kejelasan kepada kita tentang riwayat Masjid Aqshâ sehingga terbentuk seperti yang sekarang ini. Beberapa hal oleh Ibn Khaldûn diterangkan lebih rinci. Misalnya, pembangunan oleh Helena (ibunda Raja Konstantin yang mendirikan Konstantinopel) akan “Gereja Kiamat” (”Gereja Kebangkitan”, karena menurut anggapan orang Masehi gereja itu berdiri di atas kubur Nabi `îsâ al-Masîh setelah disalib, yang dari kubur itu beliau dibangkitkan kembali) terjadi pada tahun 328 Masehi, dan bahwa Helena memerintahkan untuk membuang segala macam kotoran dan sampah ke atas Karang Suci (Shakhrah), kiblat orang Yahudi, sebagai penghinaan kepada mereka.
AYANG
Wayang merupakan bentuk konsep berkesenian yang kaya akan cerita falsafah hidup sehingga masih bertahan di kalangan masyarakat jawa hinggga kini.
Disaat pindahnya Keraton Kasunanan dari Kartasura ke Desa Solo (sekarang Surakarta) membawa perkembangan juga dalam seni pewayangan. Seni pewayangan yang awalnya merupakan seni pakeliran dengan tokoh utamanya Ki Dalang yang berceritera, adalah suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni tatah sungging (seni rupa) dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending/irama gamelan, diwarnai dialog (antawacana), menyajikan lakon dan pitutur/petunjuk hidup manusia dalam falsafah.
Seni pewayangan tersebut digelar dalam bentuk yang dinamakan Wayang Kulit Purwa, dilatar-belakangi layar/kelir dengan pokok cerita yang sumbernya dari kitab Mahabharata dan Ramayana, berasal dari India. Namun ada juga pagelaran wayang kulit purwa dengan lakon cerita yang di petik dari ajaran Budha, seperti cerita yang berkaitan dengan upacara ruwatan (pensucian diri manusia).
Pagelaran wayang kulit purwa biasanya memakan waktu semalam suntuk.
Semasa Sri Susuhunan X di Solo seni Pakeliran berkembang medianya setelah didirikan tempat pementasan Wayang Orang, yaitu di Sriwedari yang merupakan bentuk pewayangan panggung dengan pemainnya terdiri dari orang-orang yang memerankan tokoh-tokoh wayang. Baik cerita maupun dialognya dilakukan oleh masing-masing pemain itu sendiri. Pagelaran ini diselenggarakan rutin setiap malam. Bentuk variasi wayang lainnya yaitu wayang Golek yang wayangnya terdiri dari boneka kayu.
Seniman keturunan Cina yang berada di Solo juga kadang menggelar wayang golek cina yang disebut Wayang Potehi. Dengan cerita dari negeri Cina serta iringan musiknya khas cina.
Ada juga Wayang Beber yang dalam bentuknya merupakan lembaran kain yang dilukis dan diceritakan oleh sang Dalang, yang ceritanya berkisar mengenai Keraton Kediri, Ngurawan, Singasari (lakon Panji).
Wayang Klitik adalah jenis pewayangan yang media tokohnya terbuat dari kayu, ceritanya diambil dari babat Majapahit akhir Dulu terkadang “wong Solo” memanfaatkan waktu senggangnya membuat wayang dari rumput, disebut Wayang Rumput.
Orang jawa mempunyai jenis kesenian tradisional yang bisa hidup dan berkembang hingga kini dan mampu menyentuh hati sanubari dan menggetarkan jiwa, yaitu seni pewayangan. Selain sebagai alat komunikasi yang ampuh serta sarana memahami kehidupan, wayang bagi orang jawa merupakan simbolisme pandangan-pandangan hidup orang jawa mengenai hal-hal kehidupan yang tertuang dalam dilaog dialur cerita yang ditampilkan.
Dalam wayang seolah-olah orang jawa tidak hanya berhadapan dengan teori-teori umum tentang manusia, melainkan model-model hidup dan kelakuan manusia digambarkan secara konkrit. Pada hakekatnya seni pewayangan mengandung konsepsi yang dapat dipakai sebagai pedoman sikap dan perbuatan dari kelompok sosial tetentu.
Konsepsi-konsepsi tersebut tersusun menjadi nilai nilai budaya yang tersirat dan tergambar dalam alur cerita-ceritanya, baik dalam sikap pandangan terhadap hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungannya serta hubungan manusia dengan manusia lain.
Pertunjukkan wayang terutama wayang kulit sering dikaitkan dengan upacara adat: perkawinan, selamatan kelahiran bayi, pindahan rumah, sunatan, dll, dan biasanya disajikan dalam cerita-cerita yang memaknai hajatan dimaksud, misalnya dalam hajatan perkawinan cerita yang diambil “Parto Krama” (perkawinan Arjuna), hajatan kelahiran ditampilkan cerita Abimanyu lahir, pembersihan desa mengambil cerita “Murwa Kala/Ruwatan”.
Untuk lebih jelasnya mari kita lihat urutan yang diatur seperti tersebut dibawah ini :
Pakem Ringgit Purwa Warni-warni:
Lakon-lakon: Peksi Dewata, Gambiranom, Semar Mantu, Bangbang Sitijaya, Wangsatama Maling, Thongthongborong, Srikandhi Mandung, Danasalira, Lesmana Buru Bojone Bangbang, Caluntang, Carapang Sasampuning Prang Baratayuda, Parikesit, Yudayana, Prabu Wahana, Mayangkara, Tutugipun Lampahan Bandung, Carangan Ingkang Kantun Jayaseloba, Doradresanala Larase Semarasupi. Bandhaloba, Ambungkus, Lahire Pandhu, Lahiripun Dasamuka, Dasamuka Tapa Turu, Lahire Indrajit, Lokapala, Sasrabahu, Bambang Sumantri, Sugriwa Subali, Singangembarawati, Anggit Dalem, Tutugipun Lampahan Wilugangga, Tunjung Pethak, Gambar Sejati, Bangbang Dewakasimpar, Ingkang Serkarta Jalintangan Suksma Anyalawadi, Samba Rambi, Antasena Rabi, Wilmuka Rabi, Partajumena, Wisatha Rabi, Sumitra Rabi, Sancaka Rabi, Antareja Rabi, Pancakumara Rabi, Sayembara Dewi Mahendra, Sayembara Dewi Gandawati, Sayembara Tal Pethak, Dhusthajumena Rabi, Pancadriya Rabi, Rukma Ical, Ugrasena Tapa, Leksmana Mandrakumara Rabi, Ada-ada Bimasuci, Pandhawa Kaobongan, Sembadra Dilarung and Secaboma (59 wayang lakon). (krew mujaddid).
IMAM
BUKHORI
Bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, terkenal kemudian sebagai Imam Bukhari, lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), cucu seorang Persia bernama Bardizbah. Kakeknya, Bardizbah, adalah pemeluk Majusi, agama kaumnya. Kemudian putranya, al-Mughirah, memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al Ja’fi, gubernur Bukhara. Pada masa itu Wala dinisbahkan kepadanya. Karena itulah ia dikatakan “al-Mughirah al-Jafi.”
Ayahnya, Ismail, seorang ulama besar ahli hadits. Dan belajar hadits dari Hammad ibn Zayd dan Imam Malik. Riwayat hidupnya telah dipaparkan oleh Ibn Hibban dalam kitab As-Siqat, begitu juga putranya, Imam Bukhari, membuat biografinya dalam at-Tarikh al-Kabir.
Ayah Bukhari disamping sebagai orang berilmu, juga dikenal sangat wara’ (menghindari yang syubhat / meragukan dan haram) dan takwa. Diceritakan, bahwa ketika menjelang wafatnya, ia berkata: “Dalam harta yang kumiliki tidak terdapat sedikitpun uang yang haram maupun yang syubhat.” Dengan demikian, jelaslah bahwa Bukhari hidup dan terlahir dalam lingkungan keluarga yang berilmu, taat beragama dan wara’. Tidak heran jika beliau lahir dan mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya itu.
Imam Bukhari dilahirkan di Bukhara setelah salat Jum’at. Tak lama setelah bayi yang masih merah itu lahir, tiba-tiba kehilangan penglihatannya. Ayahnya sangat bersedih hati. Ibunya yang solehah menangis dan selalu berdo’a kepada Allah, memohon agar bayinya bisa melihat. Kemudian dalam tidurnya wanita itu bermimpi bertemu Nabi Ibrahim a.s yang berkata: “Wahai ibu, Allah telah menyembuhkan penyakit putramu dan kini ia sudah dapat melihat kembali, semua itu berkat do’amu yang tiada henti-hentinya.” Ketika si ibu terbangun, penglihatan bayinya sudah normal. Ayahnya meninggal di waktu Bukhari masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan beliau hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Kemudian beliau dirawat dan dididik oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian.
Keunggulan dan kejeniusan Imam Bukhari sudah nampak semenjak masih kecil. Allah menganugerahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat. Ketika berusia 10 tahun, beliau sudah banyak menghafal hadits. Pada usia 16 tahun beliau bersama ibu dan abang sulungnya mengunjungi berbagai kota suci. Kemudian bertemu dengan para ulama dan tokoh-tokoh negerinya untuk memperoleh dan belajar hadits, bertukar pikiran serta berdiskusi dengan mereka. Dalam usia 16 tahun, beliau sudah hafal kitab Sunan Ibn Mubarak dan Waki, juga mengetahui pendapat-pendapat ahli ra’yi (penganut faham rasional), dasar-dasar dan mazhabnya.
Tahun 210 H, Imam Bukhari berangkat menuju Baitullah untuk menunaikan ibadah haji, disertai ibu dan saudaranya, Ahmad. Saudaranya yang lebih tua ini kemudian pulang kembali ke Bukhara, sedang beliau sendiri memilih Mekah sebagai tempat tinggalnya. ( Bersambung ).
Diulang Tahunnya yang ke-19, Tahun 2008, yang jatuh pada hari Selasa,
02 Juli 2008, Ponpes Salafizah Az-Zuhri Semarang telah mengadakan
berbagai kegiatan, antara lain :
Peresmian Gedung Baru TPA Az-Zuhri Oleh Bapak Drs. Hadi Prabowo, MM (Sekda Prov. Jateng).
Halaqoh sehari dengan tema “ Sapa itu Islam?’ yang dihadiri antara lain oleh :
Bapak Drs. H. Ali Mufiz, MPA (Gubernur Prov. Jateng)
Bp. Letjen. Purn. Bibit Waluyo (Sekarang Gubernur Prov. Jateng)
Prof. DR. H. Damardjati Soepadjar, M.Sc
(Guru Besar Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta).
Prof. Dr. H. Singgih Tri Sulistiyono ( Ketua DPD I LDII Prov. Jateng).
Bapak Prof. DR. H. Abdul Djamil, MA ( Rektor IAIN Walisobo Semarang)
Bapak Prof. DR. Ir. Slamet Budi Prayitno, MSc ( Praktisi Pemerintahan)
Bapak Prof. DR. H. Maman Rahman, MSc
Kang DR. H. Awaluddin Pimey, Lc, M.Ag
Bapak Prof. Dr. Ir. H. Eko Budiharjo(Mantan Rektor Undip Semarang).
Bapak Prof. DR. Soedijono SA, MSi (Rektor Unnes Semarang)
Bapak Prof. Dr. H. Abu Su’ud
Muspika / Muspida, Berbagai kalangan dan Tokoh Masyarakat.
Pagelaran Wayang Kulit; dalang Ki H. Joko Hadi Wijoyo degan lakon “Gatotkaca Winisuda”