Sepak Bola Api Az-Zuhri di TRANS TV

Sore itu tanggal 3 Nopember 2010 seorang pemuda asal Belanda sedang berjalan-jalan di Kawasan Kota Lama, Semarang. Warga kota Semarang yang sudah terbiasa kedatangan wisatawan asing mengira “Bule” itu sedang menikmati keindahan Kawasan Kota Lama yang memang sudah terkenal di Negeri Kincir Angin. Tapi melihat tingkahnya yang agak kebingungan, warga yang melihatnya jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang membuatnya bingung seperti sedang mencari sesuatu..
Usut punya usut, ternyata sore itu “Bule” yang bernama Hary Bond sedang mencari teman di Semarang untuk diajaknya bertanding sepak bola. Ini bisa diketahui dari pakaian yang dikenakannya, mulai dari kaos, celana hingga sepatu, dan bola yang ditentengnya.

Itulah kutipan prolog program tayangan baru dari TRANS TV mengenai pengenalan Indonesia, dengan presenter pemuda dari Belanda.
Setelah mengetahui kegiatan sepak bola yang cukup dikenal di Semarang, Hery Bond, segera melanjutkan perjalanannya ke Ponpes Salafiyah Az-Zuhri, Ketileng. Wilayah tenggara kota semarang.
Kegiatan sepak bola yang dilakukan oleh para santri putra dan putri Ponpes Az-Zuhri asuhan Abah Saeful Anwar memang tergolong unik, karena bola yang digunakan bukan dari bola karet/angin yang sering kita jumpai. Melainkan terbuat dari kelapa yang sudah direndam kedalam minyak bakar kemudian dibakar ketika digunakan untuk bertanding. Namanya bola api. Selain bola api, dalam permainannya, para santri juga menggunakan buah durian. Melihatnya saja sudah miris, apalagi ikut serta dalam pertandingan sepak bola api dan durian.
Berbeda dengan Hary Bond, pemuda ini justru menjadi penasaran dan tidak sabar ingin segera mencobanya. Maklum dari kecil memang sangat menggemari permainan sepak bola.
segera setelah melapas sepatunya, Hary yang memang mudah bergaul dengan para santripun segera bergabung dalam pertandingan dengan tim putra. Tentu saja seperti menemukan hal yang baru, Hary tak henti-hentinya meluapkan kegembiraan dengan mengangkat kedua tangan sambil mengepal setiap timnya berhasil memasukkan bola ke dalam gawang lawan. bahkan dalam pertandingan kali ini, Hary berhasil mencetak 1 gol dengan tendangan yang sangat keras setelah mendapatkan umpan sundulan dari santri.
Apakah perlu teknik dan kemampuan khusus dalam memainkan bola api dan bola durian? ternyata tidak diperlukan kemampuan khusus. Semua  orang bisa memainkannya.
Salah satu santri yang ikut dalam pertandingan, Achmad Muhajir, mengatakan permainan bola api tidak perlu latihan. Asal mantap dari hati, setiap orang pasti bisa. ”Pada awalnya, orang akan takut mencoba, tapi jika sudah mengikuti, pasti akan ketagihan”.
Jika ada keraguan, menurutnya kemungkinan hanya pada pertama main. ”Tidak perlu latihan, dan ini tidak sakit. Kuncinya hanya satu, hati kita harus mantabs ikut bermain,” ujarnya.
Menurut pengalaman mereka, permainan sepak bola api dan durian mengantar pemainnya pada proses kemantapan. Kemantapan seperti apa? Salah seorang santri putri yang juga terlibat dalam permainan sore itu, Faizah Rizqiana menuturkan, menendang bola api tidak perlu ragu. ”Ini semacam uji kemantapan hati, bahwa kita percaya api ataupun duri pada bola itu tidak akan membuat terluka”.
Pertandingan dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri, Ketileng, Tembalang, Semarang dan berakhir sebelum Maghrib.

Explore posts in the same categories: Press Release

Comment: