Istikarah; sebuah penyelewengan makna di zaman modern

Istikarah; sebuah penyelewengan makna di zaman modern

Note: mohon klik angka di dalam kurung kurawal [ ] untuk penjelasan tambahan pada kalimat tertentu

Istikharah atau lebih ma’ruf dengan kata Istikoroh, kalimat popular yang selalu berdengung dikalangan al-kebelitiyun.[1] Begitu populernya, sampai orang yang tidak paham dan belum pernah dengan Bahasa arab sebelumnya juga bisa paham maksud kata ini apa.

Namun, kalimat ini keseringannya salah dimaknai. Sebagai contoh pada kasus berikut, seseorang dihadapkan pada pilihan memilih pasangan yang ditawarkan oleh orang lain. Dengan spontan dia menjawab secara dramatis “Ana istikoroh dulu ya utk pilihan yang sulit ini”. Lalu, seminggu kemudian orang ini memberikan jawaban yang tidak kalah dramatis “Ana yakin inilah jawaban yang tepat” atau jawaban “Ana engga memilih yg ini”. Oh C’mon, inilah yang disebut dengan misconception atau lebih tepatnya mengambil defenisi istikharahnya seorang fuqaha dalam berfatwa, padahal ini bukanlah urusan berfatwa dan orang tersebut juga bukan seorang mufti.

Well, istikoroh itu bukanlah demikian kale. Memang, proses diatas tadi itu adalah bagian dari istikharah, akan tetapi jawaban istikharah tidak datang semudah kasus diatas. Pada dasarnya, ini namanya cuma takhrij[2] perasaan pribadi dengan kedok sudah memohon petunjuk kepada Allah. By the way, Wallahi, ini jauh dari makna sebenarnya dari istkoroh.

Mungkin perlu diberikan sedikit pemahaman soal Istikharah ini, tidak dalam sudut pandang pendekatan fiqh, tetapi melalui pendekatan pembenaran paradigma mainstream soal Istikharah. Tidak jauh beda dengan defenisi dan proses ijtihad. Istikharah juga merupakan bagian dri ijtihad, tetapi bukan dalam melahirkan hukum fiqh untuk khalayak dimana ini adalah tugasnya para mufti dan fuqaha, tetapi menentukan hukum untuk pribadi. Nevertheless, Fuqaha juga melakukan Shalat Istikharah ketika berijtihad pada masalah modern yang belum ada hukum fiqhnya. Tidak ada masalah besar dalam proses istkharah, masalah utamanya ada pada bagaimana jawaban itu datang sehingga muncul kesalah pahaman yang sistematis, terstruktur dan massif.

Faktanya Jawaban istikharah itu muncul setelah ada usaha maksimal untuk mencarinya. Bukan muncul seperti membalikkan telapak tangan. Indikator munculnya jawaban diantaranya adalah dimudahkan jalan menuju pilihan yang tepat atau ditutupnya jalan ke pilihan yang lain. Mengapa demikian? Simple, karena Allah tidak menurunkan wahyu setelah Rasullah wafat.

Oleh karenanya, sebagai manusia biasa yang penuh kekurangan wajib berusaha untuk menemukan jawabannya. mana saja yang mudah untuk menuju pilihan tersebut, maka sesungguhnya Allah sedang menuntun orang tersebut ke jalan itu, ketika sampai maka jawaban dari istikoroh. Bukannya seperti “Ane udah istikoroh dan dialah jawabannya”, ketika ditanya “dari mana tau?” dia lantas menjawab “yakin aja”. Ketahuilah, keyakinan yang seperti ini bukanlah keyakinan yang benar, tapi Perasaan atau jawaban dari hawa nafsu pribadi.

Aspek selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah Istikharah itu bukan hanya doa-doa lalu selesai. Usaha mendapatkan jawaban adalah, menempuh semua hal yang bisa mendatangkan Ridha Allah selaku yang memberi petunjuk. Ironisnya, cuma shalat istikharah beberapa kali, sudah ngaku istikoroh padahal tahajud engga pernah, ngaji minim, kerjaan hanya stalking akun Instagram orang. Well, this is considered as a fake istikoroh.

Tidak elegan bahkan sangat tidak tepat seseorang mengatakan “itulah jawaban istikoroh saya” sebelum benar-benar telah sampai ke tujuan.[3] Istikoroh juga bukanlah hal yang baru dilakukan pada masalah pernikahan saja. Setiap ada masalah menyangkut pemilihan opsi, Istikharah adalah hal yang wajib. Anehnya, manusia zaman milenial baru  menempuh jalur istikoroh ketika sudah berurusan dgn milih-milih pasangan. Pada urusannya yang lain, enggan beristikharah, Pertanyaannya, apakah keimanan itu muncul saat memilih pasangan saja?! Secara jujur, pertanyaan ini tertuju pada kalangan yang hijrah demi mencari pasangan.

Lantas, diantara mereka ada berargumen “Kami diajarkan bahwa ketika memilih pasangan harus istikoroh dan jawabannya adalah mana yang lebih yakin oleh hati” Tidak ada yang salah pada statement diatas kecuali setelah kata dan…

Hold on, bagaimana mungkin bisa yakin dalam waktu sesingkat itu, parahnya tanpa ada usaha yang maksimal. Sebagai contoh istikharah, Imam Muslim yg paham qawaid tashih hadits, baru meletakan salah satu hadits ke shahihnya setelah beberapa tahun usaha secara maksimal dan jangan tanyakan soal ibadahnya beliau .Beliau yang sudah paham aturan memilih, tetap berhati-hati dalam istikharahnya. Bandingkan dengan kasus sebelumnya, tidak punya qawaid pemilihan dan selektif kecuali atas hawa diri sendiri, hanya dalam 3 hari jawabannya muncul, kondisi ini diperparah dengan klaim bahwa inilah jawaban istikharah. Tidak diragukan lagi, ini disebut dengan Ghalat(Error).

Secara singkat, keyakinan yang benar itu dibangun diatas detil-detil kecil yg menguatkan pilihan. Bukan diatas hasil intuisi atau insting hewani. Sah-sah saja kalau intuisi bermain dalam perang pemikiran ini, tapi intuisi[4] akan menjadi sebuah keyakinan jika intuisi orang lain akan mengatakan hal yg sama. Tidak heran, banyak kasus  seperti berikut “ana udah istikoroh dan jawabannya iya” kenyataan dilapangan hasilnya adalah nol besar. Apa sebab utamanya? Tentu saja karena sok tau.[5]

Saya katakan: Simplenya, kalua ente mau istikoroh, kuatkan ibadah, mujahadah dalam mencari jawaban, kalaupun intuisi muncul kuatkan dengan berkonsultasi pada orang lain yang dipercaya, sesudah muncul keyakinan hidari klaim langsung bahwa inilah jawabannya, cobalah untuk menempuh proses menuju keyakinan intuitif itu. Kalau ternyata jalan kesana terasa mudah, ikuti alurnya. Tetap konsisten dengan ibadah dan mujahada tadi, selalu memohon petunjuk. Akhirnya, ketika pada tujuan yg diyakini tadi, barulah klaim, bahwa inilah jawaban istikharah dahulu.

Ok, for instance saya akan berbagi pengalaman soal beratnya beristikharah. Dahulu sebelum terbang ke Doha untuk studi master, saya mengajukan 5 permohonan scholarship; LPDP, Australia Award, Chevening, Turkey Burslari atau YTB, dan Qatar Foundation. 3 diantaranya completed,[6] dan dua diantaranya incomplete lantaran kehilangan momentum mengurus berkas, dan saya yakini ini adalah salah satu bentuk petunjuk dari Allah bahwa saya belum lulus di keduanya. Usaha terus dilakukan beriringan dengan meningkatkan ibadah semampunya. Istikharah mulai mengerucut kepada 3 pilihan, apa yang saya lakukan setelah itu? Tetap bermujahadah dan ibadah. Saat itu saya meletakkan keyakinan pada scholarshipnya di Australia[7]  tetapi saya sedikitpun tidak ngeklaim inilah jawabannya, walaupun imagining[8] tetap jalan. Dan ternyata, ketika pengumuman dilaksakan, satu persatu dari 3 scholarship gagal. YTB adalah beasiswa pertama yang mengirimkan email kegagalan saya, kemudian disusul oleh AAS Australia padahal sudah persiapan penuh dan yakin.

Lantaran target ke Australia dan Turki gagal, hanya Qatar satu-satunya aplikasi yg diproses. Alhamdulillah, saya diterima dengan full scholarship di tempat yang sama sekali tidak saya yakini bisa lulus. Meski demikian, klaim inilah “jawaban istikoroh ana” tidak pernah muncul dari mulut saya. Karena pada faktanya masih banyak proses yang memiliki potensi gagal, seperti tes kesehatan, keberangkatan, pengurusan visa, dll. Ternyata Allah berikan challenges yg banyak sekalipun dalam menghadapinya dimudahkan jalannya, seperti terlambatnya visa issuing dan ticketing, lalu pengurusan berkas keberangkatan yang membingungkan, hampir tertipu dengan tes kesehatan yang berharga jutaan. Finally, saya terbang ke Doha. klaim “inilah jawaban istikoroh” muncul saat menginjakkan kaki di housing kampus dan klaim itu mestilah berbentuk syukur bukan sekedar klaim kosong yang mengalir melalui lisan tanpa ada action.

Sebagai penutup, perlu ditegaskan bahwa Istikharah tidak sesimple membalikkan telapak tangan, perlu mujahadah dalam menemukan jawabannya dan jawabannya sendiri tidak datang secepat kilat.

[1] Diambil dari kata kebelet, kontoatif dimaknai dengan orang sudah tidak tahan kepingin nikah

[2] Bahasa lebih tepatnya, memaksakan

[3] Jawaban yang telah diyakini dan ditempuh prosesnya

[4] Pengetahuan langsung tanpa melalui prosesi ilmiah atau melalui proses penyaringan

[5] Tidak ada ungkapan yang lebih tepat untuk ini

[6] Selesai hingga diverifikasi panitia

[7] Berdasarkan intuisi, factor utamanya karena linier dan persiapan yang ekstra matang

[8] Membayangkan sedang kuliah di Australia

One thought on “Istikarah; sebuah penyelewengan makna di zaman modern

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s