Kehebatan Teks Al-Quran; Mudah dipahami oleh Awam, Bermakna dalam bagi para Ahli

Tulisan ini adalah sebuah kembangan ide dari isi buku An-Naba-ul Aziim atau The Eternal Challange yang berisi tentang penjabaran kehebatan dari teks Al-Qur’an, Buku ini ditulis oleh Sheikh Azhar Muhammad Abdullah Draz. Di bagian pertengahan Sheikh Draz menuliskan sebuah penjelasan soal kehebatan Al-Qur’an dari segi lafaz-lafaz dalam ayat-ayatnya. Penjelasan beliau benar-benar memukau akal manusia baik Muslim ataupun Non-Muslim, dalam artian, bagi yang percaya bahwa Al-Quran adalah wahyu Allah dan bagi yang tidak percaya. Dalam tulisan singkat ini ada satu kelebihan Al-Quran dari segi Lafz yaitu: Mudah dipahami oleh awam, dan memukau para expert linguistik ataupun ulama Al-Quran sendiri.

Ada baiknya statement tadi dijabarkan secara detail sebelum masuk ke refleksi dan beberapa pembuktian nyata. Mudah dipahami oleh awam, ada dua pemaknaan dari bagian awal dari statement Sheikh Muhammad Abdullah Draz rahimahullah.

Pertama, kalimat ini bermakna bahwa lafaz-lafaz atau kosakata di dalam Al-Qur’an tidak akan menyulitkan orang-orang yang tidak mempelajari ilmu sastra Arab dan ilmu-ilmu lainnya terkait Al-Quran dalam memahami maknanya. Dengan kata lain, seorang yang mampu berbahasa Arab atau dia adalah Native Speaker bahasa Arab, bukan dari kalangan terdidik, mampu memahami maksud kalimat-kalimat yang ada di dalam Al-Qur’an.

Maksud kedua dari kalimat ini terkait dengan para ‘ajam atau non-Arab yang tidak mampu berbahasa Arab. Seorang yang bukan Arab akan mengetahui bahwa Al-Qur’an ini begitu indah hanya dengan mendengarnya atau mencoba membacanya, sekalipun dia tidak tahu maknanya, bahkan orang yang tidak mengimaninya akan mengalami sebuah perasaan sentuhan di hatinya soal keindahan apa yang sedang dibacakan atau apa yang dibaca, pembuktian soal ini akan ada di bagian kedua dari tulisan ini.

Al-Qur’an menunjukkan sisi “merakyat”nya dengan mudahnya pemahaman bagi orang yang tidak mengkhususkan diri dalam mempelajarinya. Ini juga menunjukkan kesederhanaan bahasa Al-Qur’an. Telah benar pula Firman Allah yang diulang 4 kali dalam surah Al-Qamar:

وَلَقَد يَسَّرنَا القُرآنَ لِلذِّكرِ فَهَل مِن مُدَّكِرٍ

Dan sungguh telah kami mudahkan Al-Qur’an sebagai pengingat, maka apakah ada yang mengambil pelajaran?(Al-Qamar: 17)

Bermakna dalam bagi para Ahli, dalam tulisan asli beliau menggunakan kata خواص yang bermakna orang-orang khusus atau yang telah mengkhususkan dirinya dalam mempelajari Al-Qur’an atau bahasa Arab, terutama pada Ilmu Linguistik dan Sastra. Pemaknaan bagian kedua dari statement ini cukup sederhana yaitu, lafaz-lafaz Al-Qur’an akan menghasilkan penjabaran dan penjelasan yang sangat panjang dari berbagai aspek secara kebahasaan atau scientific. Yang melakukan penjabaran dan penjelasan ini tentunya para peneliti atau ‘alim yang telah memiliki kapasitas dalam mempelajarinya.

Terdapat sebuah hal unik yang perlu diperhatikan dalam fenomena kedua ini. Di satu sisi Al-Qur’an itu adalah sebuah Kitab suci yang “merakyat” dengan kesederhanaan bahasanya. Sementara disisi lain, Al-Qur’an adalah sebuah objek penelitian yang limitless atau tidak ada habisnya, semakin ditadabburkan justru akan memperluas pembahasan dan memperjelas sesuatu yang sebelumnya samar-samar, lantaran substansi ayat-ayat Al-Quran yang begitu padat. Lebih lagi, substansi kata yang dalam itu ada pada teks aslinya bukan tafsirnya atau penjelasan lebih lanjutnya, pada dasarnya, sebuah tafsir cenderung lebih rumit dipahami oleh orang awam.

Mungkin bisa dikatakan sebagai sebuah asumsi yang menjurus ke aksioma bahwa sesuatu yang sederhana tidak mungkin mampu dijabarkan sedalam mungkin, sekompleks mungkin, seluas mungkin, karena pada dasarnya kesederhaan adalah usaha untuk menghilangkan kebingungan akan sesuatu yang rumit. Meskipun ada hal-hal kompleks yang merupakan hasil merumitkan sesuatu yang sederhana, akan tetapi Kesederhaan dan Kedalaman Substansi tidak akan berkumpul dalam satu waktu. Salah satu dari keduanya harus berada di posisi dominan dalam segala hal. Tidak mungkin buku sekolah tentang pelajaran Fisika untuk tingkat Menengah atas, misalkan, diterapkan juga untuk anak sekolah dasar. Tentunya isi teks asli buku itu akan diubah terlebih dahulu agar lebih sesuai dengan tingkat pemahaman anak sekolah dasar, begitupun sebaliknya.

Sementara Al-Qur’an, dalam satu waktu, tanpa ada perubahan di teks aslinya, adalah sebuah teks yang sederhana bahasanya, dan ternyata juga memiliki kompleksitas bahasa. Sederhananya(bahkan dalam tulisan ini saya tidak mampu membuat sebuah kalimat kompleks yang sederhana) Al-Qur’an itu sederhana kosakatanya, tidak menyulitkan akal dalam memahaminya bagi orang awam, dan para ahli melihat bahwa Al-Qur’an itu terlalu indah dan tinggi level bahasanya.

Untuk membuktikan hal berikut, ada sebuah kisah nyata yang valid terbukti kebenarannya secara ilmiah.

Kisah ini terjadi ketika Rasulullah masih berada di Makkah. Seorang Quraish yang nantinya mati dalam keadaan tidak berislam bernama Utbah bin Rabi’ah mendatangi Rasulullah untuk memarahi Rasulullah hingga semua kata-kata buruk yang dimiliki oleh Arab sampai ke Rasulullah. Utbah berbicara sangat lama, hingga pada satu titik dia terdiam karena sudah kehabisan kata-kata. Lantas Rasulullah bertanya: “Sudah selesai wahai Utbah?”, lalu Utbah menjawab: “Ya, saya sudah selesai”. Rasulullah langsung membacakan ayat berikut:

 حم * تَنزِيلٌ مِنْ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ * بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ * وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ ﴾ [فصلت: 1 – 5

Ketika dibacakan 5 ayat ini, Utbah mendengarkan dengan serius dan seakan-akan “tersihir” dengan keindahan bahasa Al-Qur’an. Utbah dikenal sebagai syu’ara Quraish yaitu seorang yang mengetahui banyak kosakata bahasa Arab dan mampu bersyair. Syu’ara adalah golongan orang yang sangat cerdas di dalam komunitas Arab.

Rasulullah melanjutkan bacaan Al-Qur’annya, hingga mencapai ayat ke 13 pada surah Fussilat:

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ

“Dan Jika mereka berpaling, maka peringatkanlah mereka tentang hukuman semisal hukuman kaum ‘Ad dan Tsamud”.

Apa yang terjadi, Utbah meletakkan tangannya ke mulut Rasulullah seolah menyuruh Rasulullah berhenti membacakannya, dan wajahnya saat itu sangat ketakukan, seakan Utbah tidak sanggup mendengarkan lanjutan dari Ayat tersebut, cukup satu ayat ini membuat dirinya terhenyak dan membuatnya gemetar ketakutan. Makna ayat ini cukup dalam bagi seorang yang mumpuni dalam bidang keindahan bahasa. Lalu Utbah bersyair tentang kekhawatiran dan mencari perlindungan dari hal tersebut, akan tetapi kesombongan Utbah pada Rasulullah membuatnya tidak mendapat petunjuk dari Allah. Dia kembali ke Majelis Quraish dengan wajah yang belum pernah dilihat orang sebelumnya.

Kisah Utbah bin Rabi’ah sudah menggambarkan bagaimana seseorang yang tidak beriman pada Al-Qur’an saja bisa takjub dengan keindahan Al-Qur’an.

Keindahan Teks Al-Qur’an merupakan sebuah estetika yang tidak akan mampu dilawan oleh satu manusiapun, sekalipun dia mengumpulkan seluruh manusia dan jin yang ada di dunia hanya untuk mencoba membuat yang serupa dengan Al-Quran, bahkan untuk mendekati derajatnya saja tidak akan ada yang mampu. Tidak aneh jika seorang yang tidak mampu berbahasa Arab sedikitpun, tetap akan membaca Al-Quran dengan indah selama mengikuti panduan Tajwidnya, dan pendengar yang tidak pahampun, akan tau kehebatan yang tengah dibacakan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s