Tag: 1000 words

Istikarah; sebuah penyelewengan makna di zaman modern

Istikarah; sebuah penyelewengan makna di zaman modern

Note: mohon klik angka di dalam kurung kurawal [ ] untuk penjelasan tambahan pada kalimat tertentu

Istikharah atau lebih ma’ruf dengan kata Istikoroh, kalimat popular yang selalu berdengung dikalangan al-kebelitiyun.[1] Begitu populernya, sampai orang yang tidak paham dan belum pernah dengan Bahasa arab sebelumnya juga bisa paham maksud kata ini apa.

Namun, kalimat ini keseringannya salah dimaknai. Sebagai contoh pada kasus berikut, seseorang dihadapkan pada pilihan memilih pasangan yang ditawarkan oleh orang lain. Dengan spontan dia menjawab secara dramatis “Ana istikoroh dulu ya utk pilihan yang sulit ini”. Lalu, seminggu kemudian orang ini memberikan jawaban yang tidak kalah dramatis “Ana yakin inilah jawaban yang tepat” atau jawaban “Ana engga memilih yg ini”. Oh C’mon, inilah yang disebut dengan misconception atau lebih tepatnya mengambil defenisi istikharahnya seorang fuqaha dalam berfatwa, padahal ini bukanlah urusan berfatwa dan orang tersebut juga bukan seorang mufti.

Well, istikoroh itu bukanlah demikian kale. Memang, proses diatas tadi itu adalah bagian dari istikharah, akan tetapi jawaban istikharah tidak datang semudah kasus diatas. Pada dasarnya, ini namanya cuma takhrij[2] perasaan pribadi dengan kedok sudah memohon petunjuk kepada Allah. By the way, Wallahi, ini jauh dari makna sebenarnya dari istkoroh. Continue reading “Istikarah; sebuah penyelewengan makna di zaman modern”

Contemporary Hafiz Qur’an; an Injured Nobility

Contemporary Hafiz Qur’an; an Injured Nobility

Since 2016, the year when social media reached the peak of popularity and became a media for seeking prominence, social media has been used by politicians, actors, and preachers to gain their reputation among societies. Most of people, from middle-class people to upperclassmen, used at least three social media for any purpose. High number of users means a big opportunity for someone to become a popular and influential person, by increasing the follower numbers.

Gaining popularity is a compulsory work for some part of society. For instance, Politicians need prominence for election, preachers do this for succession in their missions, and popularity cannot be dependent from actors career. Each of them used media for positive purpose based on their duty and position in society.

However, for some types of people, becoming a prominent person breaks the value and the unwritten law. In this context, we are talking about islamic society which particular positions are required to be hidden and off popular. Mainly, the Hafiz, man who has memorized whole Qur’an. Each muslim who has completed the memorization of Quran have to avoid promoting themselves among people. It is mandatory because memorization of Qur’an is a noble work and need deep sincerity unless they lose all merits they have obtained while memorising the Qu’ran.

Continue reading “Contemporary Hafiz Qur’an; an Injured Nobility”